LAMPUNG – Ribuan mahasiswa, masyarakat, dan pengemudi ojek online menggelar Aksi Damai di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung beberapa waktu lalu. Aksi Damai berlangsung sejak pagi hingga sore dan berjalan tertib, tanpa menimbulkan insiden besar maupun kerusakan fasilitas umum.
Peserta Aksi Damai memenuhi ruas Jalan Wolter Monginsidi dan Jalan Dr. Warsito. Mereka membawa poster, bendera, dan pengeras suara untuk menyuarakan tuntutan beragam, mulai dari isu pendidikan, reforma agraria, hingga penegakan hukum.
Meski massa mencapai ribuan, aparat menjaga situasi tetap terkendali. Keberhasilan Damai ini tidak lepas dari koordinasi erat jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Lampung, termasuk TNI, Polri, DPRD, dan pemerintah daerah. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal duduk bersama massa di jalan, membuka ruang dialog yang menyejukkan.
Penghargaan dan Apresiasi terhadap Aksi Damai
Kapolda Lampung Irjen Helmy Santika mengapresiasi jalannya Damai. Ia menilai kerja sama antara aparat keamanan, mahasiswa, dan masyarakat menjadi kunci terciptanya suasana kondusif.
“Berkat kerja sama semua pihak, penyampaian pendapat berjalan aman, tertib, dan damai. Situasi seperti ini harus terus kita jaga,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (5/9).
Sejumlah perwakilan mahasiswa menyampaikan aspirasi langsung di hadapan jajaran Forkopimda. Mereka menuntut pemerintah pusat mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset, mereformasi kepolisian, serta meningkatkan kesejahteraan guru dan dosen. Tuntutan lain menyoroti kasus hukum Affan Kurniawan, kebijakan efisiensi di sektor pendidikan dan kesehatan, hingga penolakan terhadap RKUHAP. Isu reforma agraria juga muncul, dengan peserta menuntut agar pemerintah memberikan lahan petani di Lampung secara lebih adil. Mereka menyampaikan semua tuntutan ini melalui Aksi Damai yang tertib.
Mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan hari itu merupakan bagian dari keluarga besar Lampung, generasi muda yang kelak meneruskan pembangunan daerah. Aspirasi mereka dalam Aksi Damai hari ini merupakan wujud cinta pada Lampung.
Kondisi ini berbeda dengan unjuk rasa di sejumlah daerah lain di Indonesia yang berujung ricuh. Lampung justru menunjukkan wajah demokrasi yang dijalankan dengan damai melalui Aksi Damai, tanpa bentrokan.
Bagi mahasiswa dan masyarakat, momentum Aksi Damai ini membuktikan bahwa aspirasi bisa disampaikan tanpa kekerasan. Bagi aparat dan Forkopimda, hal ini membuktikan bahwa pendekatan persuasif lebih efektif daripada represif.
Aksi Damai berakhir menjelang sore. Massa perlahan membubarkan diri setelah pernyataan sikap dibacakan dan aspirasi diterima. Hujan deras yang mengguyur Bandarlampung sesaat kemudian seakan menutup Aksi Damai dengan tanda kesejukan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa Lampung mampu menjadi teladan nasional. Ketika ruang demokrasi dijaga bersama, suara rakyat dapat tersampaikan melalui Aksi Damai tanpa mengorbankan ketertiban. (*)
