Tahun Politik Rentan Ganggu Toleransi Beragama

Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji saat membuka Sarasehan Penguatan Toleransi dan Penguatan Kerukunan Umat Beragama, Rabu (12/10/2022). (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Tahun politik, masa saat ada pemilihan umum, pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah, kerap rentan untuk ganggu toleransi dan kerukunan umat beragama. Karena hampir semua orang dan kelompok terpecah akibat punya pilihan politik yang berbeda.

Masalah yang selalu muncul di masa ini, menjadi materi yang disampaikan Wakil Bupati Cilacap, Samsul Aulia Rachman. Dia membeberakan 4 hal saat berbicara dalam Peningkatan Toleransi dan Kerukunan Hidup Beragama di pendopo Kecamatan Majenang, Rabu (12/10/2022).

“Ada 4 metode untuk penguatan kerukunan dan toleransi beragama,” katanya.

Langkah pertama adalah penguatan kerukunan bagi semua unsur masyarakat. Kedua yakni strategi penguatan saat pandemi. Sementara yang ketiga dan keempat adalah strategi penguatan kerukunan saat masa penuh tekhnologi dan tahun politik.

Menurutnya, untuk meningkatan kerukunan dan toleransi beragama adalah dengan terus mengingat sejarah. Yakni dasar dan ideologi negara yang sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Demikian juga saat negara ini merdeka atas peran semua suku, pemeluk agama yang sangat beragam.

Dia juga meminta masyarakat untuk kembali menengok penyebab kegagalan pejuang tanah air di masa lampau. Yakni penerapan devide et imper oleh penjajah. Politik ini kemudian membuat masyarakat mudah terpecah belah hingga sekarang.

“Politik devide et impera. Kita tidak boleh melupakan sejarah itu,” katanya.

Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji saat membuka acara ini menegaskan, masyarakat harus waspada saat tahun politik. Karena kerap kali isu agama kerap dijadikan kedok politik. Ini sangat rentan karena bisa memperuncing perbedaan di tengah masyarakat dan mengancam kerukunan beragama.

“Desa bisa kacau,” katanya. (*)

Exit mobile version