DENPASAR – Konflik di kawasan Timur Tengah mengganggu sejumlah penerbangan ke Timur Tengah dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Manajemen bandara mencatat lima penerbangan internasional batal berangkat dan berdampak pada 1.631 penumpang.
Communication and Legal Division Head Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi, menyampaikan jumlah tersebut merupakan akumulasi penumpang sejak sehari sebelumnya.
“Untuk saat ini kami ada lima penerbangan keberangkatan yang dibatalkan, sesuai dengan data yang kami terima kurang lebih ada 1.631 penumpang,” ujar Eka Sandi.
Menurutnya, angka tersebut merupakan calon penumpang maskapai Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways. Mereka hendak melakukan penerbangan ke sejumlah kota di Timur Tengah.
Rincian penerbangan yang batal yakni Etihad EY477 rute Denpasar–Abu Dhabi pukul 18.45 Wita. Lalu Emirates EK369 rute Denpasar–Dubai, Qatar Airways QR963 rute Denpasar–Doha dan Emirates EK399 rute Denpasar–Dubai. Terakhir adalah Qatar Airways QR961 rute Denpasar–Doha.
Seluruh armada milik maskapai tersebut masih berada di apron bandara. Mereka kini menunggu kepastian pembukaan ruang udara di kawasan konflik.
Eka Sandi mengatakan, pihak bandara bekerja sama dengan maskapai untuk menangani penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan ke Timur Tengah. Maskapai memfasilitasi akomodasi hotel bagi penumpang yang telah berada di bandara sejak sehari sebelumnya. Sementara itu, sebagian calon penumpang tidak datang ke bandara setelah menerima pemberitahuan dari maskapai.
“Kami bekerja sama dengan pihak maskapai untuk memastikan penumpang yang terdampak mendapat layanan, termasuk fasilitas hotel. Kami juga menyiapkan help desk untuk membantu proses pengembalian dana, perubahan rute, dan penjadwalan ulang agar penumpang tetap terlayani dengan baik,” katanya.
Hingga kini, maskapai belum memastikan jadwal keberangkatan selanjutnya. Pihak maskapai masih menunggu pembukaan udara di sejumlah negara di Timur Tengah.
Secara umum, operasional penerbangan dari Timur Tengah dan menuju Bali tetap normal. Kecuali rute yang melintasi wilayah udara Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, serta sebagian Suriah yang saat ini masih tertutup. (*)
