CILACAP – Sebuah video beredar dan langsung menjadi viral berisi seorang perempuan berjilbab jemput suami saat tengah main bola. Tidak hanya menggenakan jiblab, perempuan ini masuk ke lapangan masih dengan menggenakan helm dan masker. Sementara perekam adegan ini kemungkinan adalah penonton yang ada di sana.
Di video tersebut, nampak ada pertandingan sepak bola dan tengah terjadi perebutan bola. Tiba-tiba masuk seorang perempuan berjilbab ke tengah lapangan untuk jemput suami yang tengah main bola. Sang wasit langsung meniup peluit tanda menghentikan sementara pertandingan.
Dengan gelagat tanpa bersalah, perempuan ini langsung mendatangi salah satu pemain. Keduanya lalu berbincang sejenak dan keluar lapangan.
Penelusuran bercahayanews.com menyebutkan, pertandingan sepak bola ini ada di salah satu desa di Kecamatan Dayeuhlhur, Cilacap. Desa ini memang tengah menggelar turnamen sepak bola.
Perempuan berjilbab ini lalu memberikan klarifikasi dalam sebuah podcast di chanel youtube EM STUDIO.
Dia membenarkan dirinya sebagai perempuan di video tersebut. Dia mengenalkan nama sebagai Siti Aminah. Sementara pemain bola tersebut adalah suaminya sendiri.
Ketika ditanya alasan jemput suami saat main bola, dia mengatakan ada masalah keluarga yang harus segera diselesaikan. Sang suami sebelumnya sudah berjanji untuk pulang pada hari Sabtu sampai Senin belum pulang.
“Janjinya pulang hari Sabtu tapi sampai Senin belum pulang,” kata Siti di podcast itu.
Siti menambahkan, dia pernah mewanti-wanti agar suaminya untuk meminta ijin sebelum main bola. Jika tidak, dia anak nekat masuk tengah lapangan sambil membawa anak.
“Sebelum inipun saya pernah bilang. Seumpanya main bola dan tidak dapat ijin, saya akan nekat masuk lapangan. Bahkan bawa anak,” katanya.
“Tapi kalau saya ngasih ijin ga papa,” katanya.
Dia mengakui perbuatannya melanggar aturan sepak bola. Karena itulah dia memperlihatkan diri di podcast untuk mengklarifikasi. Sekaligus meminta maaf kepada panitia pertandingan.
“Bukannya saya tidak menghormati. Saya cuma mau suami,” ujarnya tanpa melanjutkan kalimat karena menangis. (*)






