CILACAP – Pengamat dan praktisi pendidikan di Cilacap, ikut buka suara terkait perdebatan boleh dan tidaknya wisuda siswa TK sampai SMA. Ini beda dengan usulan netizen yang ingin mengembalikan wisuda hanya untuk sarjana.
Masalah wisuda kini tengah viral setelah ada unggahan di media sosial. Salah satu netizen meminta agar wisuda hanya untuk sarjana saja. Unggahan ini sepertinya mendukung keluhan netizen lainnya yang mengaku keberatan dengan wisuda TK, SD, SMP dan SMA. Alasannya karena memberatkan orang tua murid.
Ketua Yayasan El Bayan, Fathul Aminudin Aziz memiliki pandangan kalau siswa TK tetap bisa wisuda. Demikian juga dengan siswa di tingkat pendidikan lainnya. Seperti SD hingga SMA.
“Menurut saya tetap boleh-boleh saja,” katanya, Sabtu (17/6/2023).
Menurutnya, penggunaan wisuda pertama kali muncul dari pendidikan tinggi. Dalam prosesi ini, mahasiswa yang lulus menggenakan atribut seperti topi dan baju toga sampai selempang dengan tulisan tertentu.
Namun, katanya wisuda dengan nama berbeda sudah ada di tempat lain. Seperti khataman di lingkungan pondok pesantren. Lalu ada kata akhirusanah yang mulai dipakai sekolah formal.
“Jadi narasi wisuda tidak bisa menjadi monopoli pendidikan tinggi atau mahasiswa,” terang Aziz.
Namun demikian, dia melontarkan sejumlah syarat bagi sekolah yang ingin menggelar prosesi wisuda siswa. Pertama tentu mempertimbangkan masalah kemampuan orang tua murid. Terlebih saat ini karena kelesuan dunia usaha. Caranya dengan meminimalisir sumber pengeluaran yang membebani orang tua.
Sebut saja, penggunaan baju dan topi toga diganti dengan baju tradisional. Namun siswa bisa menggunakan selempang seperti mahasiswa yang meraih predikat terbaik.
“Efektifkan penganggaran. Jangan sampai membebani orang tua,” katanya.
“Kalau sampai sewa hotel tentu sangat berlebihan. Kalau yang seperti ini saya jelas tidak sepakat,” katnya lagi.
Dia meminta masyarakat dan lembaga pendidikan menyadari tujuan wisuda bagi siswa. Yakni sebagai bentuk doa agar mereka nantinya bisa lulus sarjana.
“Bisa jadi, wisuda siswa ini sebagai bentuk hope,” tegasnya. (*)






