• Kam. Jun 18th, 2026

Hujan di Musim Kemarau. Ini Penjelasan BMKG

BMKG ingatkan masih adanya potensi hujan di musim kemarau. Hujan ini terjadi pada periode 4 dan 6 Juli serta 7 dan 10 Juli 2023. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Hujan masih tetap berpotensi terjadi meski sekarang sudah memasuki puncak musim kemarau. Puncak musim kemarau di Indonesia kemungkinan besar terjadi pada Juli dan Agustus 2023. Hal ini tentu saja mengundang perhatian dan tanda tanya masyarakat. Karena kemarau selalu identik dengan musim kering.

Biasanya, musim kemarau terjadi antara periode April-Oktober. Hingga Juni sudah masuk dalam musim kemarau dengan tidak adanya hujan. Sebaliknya, periode Oktober-April menjadi musim penghujan dan puncaknya terjadi antara Desember hingga Januari.

Terkait masih adanya hujan di musim kemarau, BMKG angkat bicara dan memberikan penjelasan secara tekhnis. Penjelasan ini dalam bentuk video narasi singkat dan diunggah di instagram @infobmkg.

BMKG mulai menayangkan vidoe ini pada Rabu (5/7/2023) dalam format tulisan tanpa suara narator. Isinya tentang penjelasan penyebab masih terjadinya hujan di musim kemarau. Yakni adanya dinamika atmosfer pada skala regional hingga lokal. Dinamika ini berperan kuat dalam memicu pertumbuhan awan hujan.

“Ssehingga menyebabkan kenapa dalam sepekan ini masih terjadi potensi hujan di beberapa wilayah dalam beberapa hari ke depan,” demikian bunyi running text di video tersebut.

Faktor dinamika atmosfer yang memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan yakni aktivitas gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial di sekitar wilayah Indonesia. Juga adanya pola belokan dan perlambatan angin di wilayah Indonesia bagian utara. Ini terjadi karena kehadiran pola sirkulasi di Laut Cina Selatan dan utara Sulawesi bisa ikut memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan.

Akun instagram ini merinci wilayah mana saja yang masih ada potensi hujan dengan skala sedang hingga lebat. Tiap wilayah ini terbagi dalam periode 4 hingga 6 Juli. Lalu ada periode 7 dan 10 Juli 2023.

“BMKG menghimbau kepada masyarakat terdampak, terutama di daerah berbahaya untuk meningkatkan kewaspadaan,” tulis BMKG. (*)

By

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *