CILACAP – Harga gula merah melonjak tajam di berbagai pasar tradisional di wilayah Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Cilacap. Kenaikan ini menimbulkan keluhan dari para pedagang kecil dan konsumen rumah tangga yang mengandalkan bahan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam sepekan terakhir, harga gula merah mahal membuat daya beli masyarakat menurun dan pedagang kehilangan pembeli.
Pantauan di Pasar Gede Cilacap menunjukkan, harga gula merah kini tembus Rp20.000 per kilogram dari sebelumnya Rp14.000 hingga Rp15.000. Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi di Cilacap, tetapi juga menyebar ke wilayah sekitarnya seperti Banyumas dan Kebumen. Para pedagang menyebut lonjakan harga terjadi akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi.
“Biasanya saya kulakan dari petani di daerah Majenang atau Banjarnegara, tapi sekarang stoknya sedikit. Otomatis harga ikut naik. Gula merah mahal begini bikin pelanggan mengeluh,” ungkap Siti Aminah, seorang pedagang sembako di Pasar Sidodadi, Rabu (30/7).
Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau panjang yang menyebabkan produktivitas nira kelapa menurun drastis. Para petani penderes mengaku kesulitan mendapatkan nira karena bunga kelapa tak menghasilkan cairan yang cukup. Akibatnya, produksi gula cetak menyusut signifikan.
Salah satu petani penderes, Sukardi dari Desa Karangrena, menjelaskan bahwa musim kering yang berlangsung sejak Juni membuat panen nira turun hingga 50 persen. “Dulu bisa dapat 15 liter nira per pohon, sekarang paling 7–8 liter. Jadi, gula merah mahal karena bahan bakunya langka,” ujarnya.
Membenarkan Tren Kenaikan Harga
Dinas Perdagangan Kabupaten Cilacap membenarkan adanya tren kenaikan harga tersebut. Mereka menyatakan bahwa gula merah mahal terjadi karena rantai distribusi terganggu dan permintaan menjelang musim hajatan semakin meningkat. Untuk itu, pihak dinas sedang menyusun langkah-langkah agar harga kembali stabil, termasuk menjajaki kerja sama dengan koperasi petani penderes.
Konsumen berharap pemerintah segera melakukan intervensi pasar. “Kami ibu rumah tangga bingung, gula merah mahal ini bikin pengeluaran makin besar. Biasanya buat masak atau bikin kue,” kata Murniati, warga Kelurahan Sidanegara.
Gula merah, selain menjadi bahan pangan pokok di dapur rumah tangga, juga menjadi sumber pendapatan utama bagi ribuan petani penderes di Jawa Tengah. Jika harga terlalu mahal, konsumen bisa beralih ke pemanis lain seperti gula pasir atau pemanis buatan, yang justru berpotensi mengancam keberlangsungan usaha penderesan tradisional.
Pemerhati pertanian dan industri rumah tangga, Dr. Rudi Hartono dari Universitas Jenderal Soedirman, menilai bahwa fenomena gula merah mahal harus dijawab dengan solusi jangka panjang. Ia mendorong pemerintah daerah menyediakan pelatihan pengelolaan nira yang lebih efisien dan dukungan teknologi sederhana agar produksi tetap stabil meski di musim kemarau.
Hingga berita ini diturunkan, harga gula merah masih bertahan tinggi di sejumlah pasar, dan belum ada tanda-tanda akan menurun dalam waktu dekat. (*)
