• Kam. Jun 18th, 2026

Menjelang Wukuf di Arafah, Kemenag Cek Tenda Jemaah Haji

Dirjen PHU, Hilman Latief bersama tim saat memeriksa tenda dan sarana lainnya yang akan dipakai jemaah haji saat wukuf di Arafah. Tim juga memeriksa fasilitas lain di Mina dan Muzdalifah. (doc/kemenag)

JAKARTA — Menjelang pelaksanaan Wukuf di Arafah, Muzdalifah yang jadi tempat para jemaah bermalam sebelum wukuf dan Mina, Kemenag cek kesiapan sarana termasuk tenda untuk para jemaah haji. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Hilman Latief, memimpin peninjauan tersebut.

Dalam kunjungan ini, dia memeriksa tenda dan sarana lain untuk menunjang ibadah Wukuf di Arafah bagi para jemaah haji. Dia memastikan adanya peningkatan signifikan pada sejumlah sarana penunjang jemaah.

“Kami melihat seluruh tenda sudah ada kasur, AC, toilet, dapur, dan fasilitas pendukung lainnya,” ujar Hilman saat melakukan inspeksi di Arafah menjelang ibadah Wukuf.

“Toilet bertingkat dan sistem kelistrikan serta pendingin udara juga telah diperbarui,” ujar.

Ia menekankan pentingnya kesiapan seluruh fasilitas, khususnya tenda, pendingin ruangan, dan sanitasi untuk para jemaah saat Wukuf di Arafah. Hilman meminta pihak penyedia layanan (syarikah) menjamin tidak ada kendala saat puncak ibadah berlangsung.

Di Mina, Kemenag juga memeriksa kondisi tenda dan sarana lainnya yang menjadi penyangga bagi jemaah untuk tinggal lebih lama di lokasi tersebut. Kota ini menjadi lokasi para jemaah haji bermalam di dalam tenda, sebelum berangkat ke Arafah untuk melaksanakan Wukuf.

Selain itu, beberapa syarikah akan meluncurkan inovasi layanan seperti es krim dan minuman dingin untuk meningkatkan kenyamanan jemaah.

Hilman Latief mengatakan, tenda di kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina mampu menampung 270 hingga 350 jemaah haji per unit. Dan selama kawasan tersebut, jemaah haji akan mengikuti skema Murur dan Tanazul.

Hilman menegaskan, pihak syarikah akan terus mengkoordinasikan pergerakan jemaah haji. Mulai sejak keberangkatan dari hotel hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.

Terkait kemungkinan terpisahnya pasangan atau keluarga jemaah, Hilman menyatakan pihaknya telah meminta syarikah mengakomodasi kebutuhan tersebut.

“Kami sudah berdiskusi dengan para CEO syarikah agar memberikan kelonggaran agar jemaah bisa tetap bersama keluarga atau pendamping,” jelasnya. (*)

By