ACEH – Kondisi kesehatan pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang memburuk setelah banjir melanda wilayah tersebut. Sejumlah pengungsi Aceh Tamiang mulai terserang penyakit. Seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan infeksi kulit menjangkit di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak.
Dokter relawan Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan, dr Yulia Dewi Irawati menjelaskan detail penyebabnya. Dia melihat kondisi pascabanjir memicu peningkatan kasus penyakit para pengungsi Aceh Tamiang. Selain itu, sanitasi yang belum pulih dan kepadatan di lokasi pengungsian memperbesar risiko penularan. Hingga para pengungsi di Aceh Tamiang mudah sekali terserang berbagai penyakit.
“Lingkungan yang masih lembap, kualitas sanitasi yang belum sepenuhnya pulih, serta aktivitas warga di pengungsian membuat risiko penularan penyakit cukup tinggi,” ujar dr Yulia.
Tim medis mencatat, kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak. Hingga tim ini memberikan perhatian khusus kepada bayi dan balita, ibu hamil dan menyusui, lansia dan penyandang disabilitas. Demikian juga dengan ODGJ, serta pengungsi lainnya.
Relawan kesehatan juga mencatat sejumlah pengungsi Aceh Tamiang juga terserang penyakit tidak menular. Seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan asma. Tim memastikan mereka ini tetap memperoleh akses pengobatan. Langkah ini bertujuan mencegah perburukan kondisi kesehatan di tengah situasi darurat pascabanjir.
Selain memberikan layanan medis, para relawan juga mengedukasi para pengungsi terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tim turut memantau kondisi sanitasi lingkungan pengungsian serta melakukan upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa yang berpotensi muncul setelah bencana. (*)
