CILACAP – Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Teti Rohatiningsih menyoroti meningkatnya kasus penyakit di kalangan anak muda yang timbul oleh gaya hidup tidak sehat. Ini menjadi faktor dominan yang menyebabkan berbagai penyakit muncul di usia produktif.
“Hasil kunjungan ke berbagai daerah, ternyata banyak pasien usia muda yang sakit karena lifestyle yang kurang sehat,” ujarnya usai Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) oleh BPOM Kantor Semarang bersama Anggota DPR RI Komisi IX bertajuk Cerdas Memilih Pangan Yang Aman, Selasa (17/2/2026).
Teti mengatakan, pihkanya bersama BPOM, salah satu mitra di Komisi IX DPR RI, terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Salah satu targetnya adalah memitigasi dampak buruk gaya hidup di masa mendatang. Termasuk konsumsi makanan yang beredar bebas tanpa memperhatikan aspek kesehatan menjadi salah satu perhatian utama.
Menurut Teti, persoalan kesehatan bukan semata tanggung jawab individu, melainkan membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, peran masyarakat, dan edukasi berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya memberikan informasi yang tepat agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
“Kita harus terus mengedukasi dan memberikan informasi. Kalau sudah mengerti, paling tidak mereka bisa menjaga diri sendiri,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pendekatan preventif dibandingkan kuratif. Menurutnya, pencegahan harus menjadi prioritas agar beban layanan kesehatan tidak terus meningkat.
“Kalau lifestyle tidak diubah, nanti ke mana-mana. Penggunaan BPJS juga akan maksimal, padahal itu stimulan. Pemerintah sedang membenahi dari semua sisi,” katanya.
Selain sosialisasi langsung, Teti mendorong pemanfaatan digitalisasi sebagai sarana edukasi kesehatan. Ia menilai seluruh program Kementerian kini telah berbasis digital hingga masyarakat mudah untuk mengaksesnya.
“Digital ini kita pergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai punya digital tapi digunakan untuk hal-hal yang buruk,” tegasnya.
BPOM Semarang
Kepala BPOM Semarang, Dra Rustyawati, Apt, M.Kes.(Epid), mengajak masyarakat memahami pentingnya memilih makanan yang aman dan sehat. Hingga sosialisasi oleh BPOM selalu mengambil tema berbeda. Tujuannya tiap masyarakat lebih mudah menangkap materi sosialisasi.
“Kalau edukasi seperti ini, kita pakai tema. Kadang pangan, kadang obat, kadang kosmetik. Tematik supaya mereka lebih paham,” ujarnya.

Ia menegaskan pangan menjadi fokus utama karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena pada dasarnya, masyarakat mengonsumsi pangan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Sehingga pemahaman tentang keamanan pangan harus terus ditingkatkan.
Rustyawati menambahkan edukasi tidak hanya menyasar makanan dalam kemasan, tetapi juga makanan siap saji. Ia menyebut setiap jenis pangan memiliki karakteristik dan cara penanganan berbeda.
“Kita jelaskan bahwa makanan itu berjenis-jenis dan masing-masing punya kekhasan serta cara penanganan sendiri. Kalau hanya satu sisi, pemahaman masyarakat tidak akan komprehensif,” jelasnya.
Terkait makanan kemasan, Rustyawati menekankan pentingnya menerapkan prinsip Cek KLIK, jargon resmi Badan POM. Cek KLIK merupakan panduan sederhana bagi masyarakat untuk memeriksa Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli produk.
“Cek KLIK itu sangat aplikatif. Masyarakat cukup melihat kemasannya masih bagus atau tidak, jangan yang sudah penyok,” katanya.
Ia menjelaskan kemasan penyok berisiko menimbulkan kerusakan produk dan membahayakan kesehatan. Karena itu, petugas BPOM selalu menerangkan alasan di balik setiap larangan agar masyarakat memahami dampaknya.
Rustyawati juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat saat momentum puasa dan Lebaran, ketika konsumsi makanan kemasan meningkat. Ia berharap prinsip Cek KLIK membantu masyarakat memilih produk yang aman.
Sementara untuk makanan siap saji, ia menegaskan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan pemeriksaan kemasan. Rustyawati menyebut pangan siap saji harus bebas dari tiga bahaya utama, yakni bahaya kimia, fisik, dan mikrobiologi.
“Tidak boleh mengandung bahan kimia berbahaya seperti boraks dan formalin. Secara mikrobiologi juga harus segar, tidak basi, tidak berbau, dan tidak berubah warna,” tegasnya. (*)