YOGYAKARTA – PP Muhammadiyah berpesan agar pejabat publik menjadikan puasa sebagai momen tepat untuk lakukan penghematan anggaran. Sekaligus untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat buruk.
PP Muhammadiyah menggelar PP Muhammadiyah menggelar Konfrensi Pers PP Muhammadiyah tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal dan Zulhijah 1446 H, di Yogyakarta, Rabu (12/2/2025). Dalam kesempatan itu, PP juga memberikan pesan puasa bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk bagi pejabat publik.
Salah satu poinnya adalah pesan agar puasa menjadi momen tepat bagi pejabat untuk lakukan penghematan anggaran. Ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo yang memangkas anggaran di pemerintah.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, MSi berpesan agar pejabat publik bangsa elit bangsa, bisa memperakaya keluhuran batin. Hingga saat menjalankan amanah rakyat, penuh dengan nilai-nilai keagamaan.
“Amanah itu mandat luhur atas nama Alloh. Jauhi hal-hal buruk, korupsi, pemborosan dan arogansi diri sebagai pejabat publik,” terang Haedar.
“(Pejabat publik ini) yang kemudian kita tidak bisa jadi teladan di hadapan masyarakat,” katanya.
Ketua PP Muhammadiyah, DR H Agung Danarto MAg membacakan Pesan Puasa PP Muhamamdiyah. Ada 10 poin Pesan Puasa yang dia bacakan. Di poin ke 8, dia meminta hal serupa.
Menurutnya, pejabat seharusnya paham dengan penghematan anggaran. Realisasi dari penghematan anggaran dengan mengarahkan uang rakyat untuk kepentingan bersama.
“Anggaran dan aset publik adalah milik negara yang dipergunakan sebaik-baiknya untuk hajat hidup publik. Bukan kepentingan pribadi,” katanya saat membacakan Pesan Puasa PP Muhammadiyah.
Danarto menambahkan, kekuasaan juga bukan untuk menjamin kepentingan diri sendiri. Namun penggunaannya harus mementingkan rakyat secara luas.
“Pergunakan kekuasan untuk hajat hidup publik dan tunaikan tugas untuk mensejahterakan dan majukan kehidupan bangsa,” katanya.
Selain melakukan penghematan anggaran, pejabat selama Ramadan juga tidak mengumbar kebencian. Apalagi sampai merendahkan Tuhan, agama tertentu, para nabi dan kitab suci.
“Jauhi ujaran menimbulkan permusuhan dan keresahan. Apalagi yang merendakan Tuhan, agama, nabi dan kita suci,” tegasnya. (*)
