MATARAM – Kebutuhan sayuran dapur MBG Sumbawa hingga kini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Sekitar 80 persen kebutuhan sayur masyarakat di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih bergantung pasokan dari Pulau Lombok dan Kabupaten Bima. Ini terjadi karena produksi lokal belum mampu mencukupi permintaan harian.
Ketua Koperasi Konsumen Syariah BMT Insan Samawa, Rai Saputra menyebutkan, pasokan sayur lokal menurun sejak pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Untuk kebutuhan dapur MBG saja, pasokan sayuran petani lokal Sumbawa belum cukup. Sebagian besar masih kami datangkan dari luar Sumbawa,” kata Rai Saputra.
Berbagai jenis sayuran hingga bumbu dapur, masih bergantung pada pasokan pedagang dari luar daerah. Sementara produksi sayur lokal masih belum berjalan secara kontinyu. Sehingga belum bisa menopang konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan program pemerintah.
Rai menilai potensi lahan hortikultura di Sumbawa sebenarnya sangat luas. Pemerintah daerah harus mendorong pengembangan tanaman hortikultura, agar kebutuhan sayur harian bisa terpenuhi dari hasil produksi lokal.
“Minimnya ketersediaan sayur lokal menjadi tantangan utama SPPG, apalagi saat program MBG mulai berjalan optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, tingginya permintaan melalui program MBG justru membuka peluang besar bagi petani dan peternak Sumbawa untuk ikut dalam rantai pasok pangan daerah.
Kebutuhan sayur untuk program MBG mencapai sekitar 35 ton per hari, belum termasuk daging sapi, ayam, dan telur. Dengan permintaan sebesar itu, Rai menilai petani lokal memiliki peluang besar untuk menjadi pemasok utama.
“Program MBG seharusnya bisa menjadi momentum bagi petani Sumbawa. Kalau potensi ini dimaksimalkan, masyarakat lokal bisa menjadi penyedia utama sayuran dapur MBG Sumbawa tanpa lagi bergantung pada daerah lain,” tutupnya. (*)
