• Sab. Jun 20th, 2026

Ratusan Siswa Mogok di SMAN 1 Cimarga, Diduga Kekerasan Kepala Sekolah

Ratusan siswa mogok masuk sekolah di SMAN 1 Cimarga, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, pada Selasa (14/10/2025).(doc)

BANTEN – Ratusan siswa mogok masuk sekolah di SMAN 1 Cimarga, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, pada Selasa (14/10/2025). Aksi ini diduga dipicu dugaan kekerasan yang dilakukan Kepala Sekolah Dini Fitria terhadap siswa kelas XII-1 Kurikulum Merdeka, Indra Lutfiana Putra (17), Jumat (10/10/2025) pagi.

Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, hingga hari kedua aksi, suasana sekolah tetap sepi. Ratusan siswa mogok membuat seluruh ruang kelas mulai dari kelas X hingga XII kosong, sementara beberapa guru tetap melakukan kegiatan bersih-bersih di lingkungan sekolah.

Sekolah mencatat sebanyak 640 siswa dari 19 kelas tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Meski begitu, aktivitas guru dan tenaga kependidikan tetap berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa ratusan siswa mogok tidak mengganggu operasional sekolah secara keseluruhan.

Kepala Sekolah Dini Fitria membenarkan adanya aksi ini.Ia menegaskan bahwa sebagai ASN, ia tetap melaksanakan tugasnya seperti biasa. “Kita mah tugasnya melayani. Kita berniat melayani, kita kerja saja. Kemarin juga saya sudah koordinasi dengan wakasek untuk menjaga kondisi agar tetap kondusif,” ujar Dini, Senin (13/10/2025). Ratusan siswa mogok tetap membuat sekolah harus beradaptasi.

Sekolah Berupaya Komunikasi dengan Orang Tua Siswa

Dini menambahkan, pihak sekolah telah mencoba berkomunikasi dengan orang tua siswa, namun aksi tetap berlangsung karena para siswa memiliki pandangan sendiri terhadap peristiwa yang terjadi. “Ternyata di belakang layar anak-anak punya cerita sendiri. Pihak sekolah sudah mencoba berkomunikasi dengan orang tua murid. Ratusan siswa mogok tetap menolak hadir,” katanya.

Lebih lanjut, Dini menghormati keputusan para siswa untuk tidak masuk sekolah, meski ia mengaku mendapat informasi adanya pihak yang memengaruhi situasi tersebut. “Siswa memilih untuk tidak masuk sekolah. Saya sih enggak mau apriori. Namun saya dapat bocoran-bocoran, ada backing di belakang ini. Ratusan siswa mogok karena faktor ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, kepala sekolah diduga melakukan kekerasan fisik terhadap Indra Lutfiana Putra karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Kejadian bermula saat korban merokok di belakang salah satu warung sekitar sekolah, kemudian ditegur dan terjadi dugaan kekerasan. Aksi ini memicu ratusan siswa mogok sebagai bentuk protes.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten belum merilis keterangan resmi mengenai dugaan kekerasan yang memicu aksi siswa.

Ratusan siswa mogok tetap menjadi sorotan masyarakat dan pihak sekolah menunggu arahan resmi dari dinas terkait. (*)

By