JAKARTA — Indonesia mulai bisa melakukan ekspor jagung. Kondisi ini berbeda dari tahun 2024 yang masih ada impor. Volume impor Januari hingga September 2024 mencapai 1,38 juta ton. Namun mulai Juni 2025, Indonesia sudah bisa membalikan keadaan dan menjadi negara pengekspor jagung.
Ekspor jagung perdana dari Indonesia sebanyak sebanyak 1.200 ton. Wilayah pemberangkatan produk ekspor tersebut ada di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Sementara tujuan ekspor adalah ke Kuching, Malaysia.
Menurut Presiden Prabowo, ekspor jagung perdana dari Indonesia menjadi momentum strategis bagi transformasi sektor pertanian.
“Ekspor jagung ini menjadi awal yang baik. Kami akan terus mendorong pembangunan koperasi desa dan menciptakan rantai suplai baru agar produksi pangan semakin kuat dan berkelanjutan,” ujar Prabowo usai melepas ekspor perdana, Kamis (5/6/2025).
Presiden menekankan, seluruh upaya ini bertujuan untuk memastikan rakyat memperoleh pangan bergizi dengan harga terjangkau. Ia juga menargetkan peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan. Caranya melalui kebijakan yang berorientasi pada distribusi adil dan berkelanjutan.
“Harga pangan harus terjangkau rakyat. Nilai tukar petani dan nelayan harus naik. Seluruh rakyat harus makan dengan baik dan bergizi. Itulah cita-cita Indonesia adil, makmur, dan sejahtera,” tegasnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, ekspor jagung Indonesia ke Malaysia merupakan bagian dari kontrak tahunan sebesar 240 ribu ton jagung. Untuk pengiriman awal sebanyak 20 ribu ton per bulan.
“Ekspor perdana dari Bengkayang sebanyak 1.200 ton hari ini menjadi bagian dari total pengiriman 50 ribu ton bulan ini,” kata Amran.
Ia merinci pengiriman lanjutan berasal dari NTB sebesar 20 ribu ton dan Gorontalo 27 ribu ton.
Amran juga menyampaikan bahwa pelepasan ekspor jagung dari Bengkayang ini merupakan yang pertama. Selain Bengkayang, wilayah lain juga siap menyusul untuk melakukan ekspor jagung. Yakni NTB sebesar 20 ribu ton dan Gorontalo 27 ribu ton. (*)






