PERTAMINA CILACAP JAJAKI MINYAK JELANTAH MBG UNTUK BAHAN BAKU SAF

CILACAP — Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap tengah menjajaki pemanfaatan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah ini menjadi bagian dari pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan di sektor penerbangan.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan minyak jelantah akan dikumpulkan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Pengumpulan dari kedua sumber tersebut akan menggunakan skema antarbisnis atau business-to-business (B2B).

Selain dari dapur penyedia MBG dan koperasi desa, Pertamina juga menjajaki pasokan minyak jelantah dari hotel, restoran, kafe, serta pemasok lainnya. Salah satunya berasal dari Gabungan Pengusaha atau Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi), yang diperkirakan memiliki potensi pasokan sekitar 240 ribu hingga 300 ribu ton per tahun.

Pertamina juga membuka skema business-to-consumer (B2C) dengan menyasar rumah tangga, masyarakat, dan komunitas. Melalui skema tersebut, harga pembelian minyak jelantah dilaporkan mencapai sekitar Rp6.000 per liter, sedangkan harga melalui skema B2B diperkirakan lebih tinggi.

Minyak jelantah yang terkumpul nantinya menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku SAF. Pengembangan ini membuat limbah minyak goreng yang sebelumnya berpotensi dibuang menjadi memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Indonesia sendiri telah memproduksi SAF dan melakukan sejumlah uji coba penggunaannya. Pertamina mencatat produksi perdana SAF dilakukan pada Juli–Agustus 2025 setelah sebelumnya dilakukan uji coba penerbangan komersial pada 2023. SAF yang dikembangkan juga telah memperoleh sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).

Pengembangan bahan bakar berkelanjutan tersebut turut memperkuat posisi Cilacap dalam pengembangan teknologi energi baru. Kilang Cilacap tidak hanya berperan dalam pengolahan bahan bakar konvensional, tetapi juga mulai dikembangkan untuk mendukung pemanfaatan bahan baku terbarukan.

Pemanfaatan minyak jelantah dari berbagai sumber juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Rumah tangga dan komunitas dapat memperoleh nilai tambah dari limbah minyak goreng, sementara Pertamina mendapatkan alternatif sumber bahan baku untuk pengembangan SAF.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa program MBG berpotensi memiliki keterkaitan dengan sektor energi melalui pengelolaan limbah dari dapur SPPG. Jika skema pengumpulan berjalan secara luas, minyak jelantah dari berbagai daerah dapat menjadi salah satu sumber bahan baku dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

BercahayaNews — Ikuti perkembangan terbaru seputar ekonomi, energi, teknologi, dan lingkungan hanya di Gelanggang News: https://bercahayanews.com/