Relokasi Padangjaya Sisakan Akses

  • Bagikan
Hunian tetap di Dusun Jatiluhur Desa Padangjaya Kecamatan Majenang, Cilacap masih belum ada akses masuk. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Rumah relokasi warga Desa Padangjaya Kecamatan Majenang,Cilacap masih menyisakan pekerjaan terakhir. Yakni berupa akses masuk menuju lokasi hunian tetap (huntap) bagi korban pergerakan tanah pada Januari 2017 lalu. Bencana ini merusak rumah warga yang tinggal di Dusun Jatiluhur Desa Padangjaya.

Pembangunan huntap di sana mulai 2020 lalu. Pengadaan lahan dengan menggunakan APBD Kabupaten Cilacap. Baru setelah itu, pemerintah pusat mulai menggara pembangunan huntap.

“Sekarang rumah sudah selesai. Listrik dan air sudah masuk. Tinggal akses jalan yang belum,” ujar Kepala Dusun Jatiluhur Desa Padangjaya, Tarsono, Selasa (5/10/2021).

Dia mengatakan, pemerintah kabupaten sebenarnya sudah menyiapkan anggaran untuk pengadaan akses jalan sejak setahun lalu. Namun alokasi anggaran ini tergerus akibat adanya kebijakan re-focusing. Pemerintah lalu kembali menyiapkan alokasi anggaran ini. Nantinya akan muncul pada tahun anggaran 2022.

“Informasinya tahun 2022 akan disiapkan,” kata dia.

Akibat belum ada akses memadai, katanya sejumlah warga belum bisa sepenuhnya pindah ke huntap. Beberapa dari mereka memilih tinggal bersama kerabat. Mereka berharap bisa pindah ke sana setelah ada akses masuk.

“Milih tinggal di rumah kerabat. Kalau akses sudah ada mereka mau pindah karena lebih mudah,” kata dia.

Berdasarkan laporan singkat Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan, gerakan tanah terjadi pada 16 dan 18 Januari 2017 lalu. Jenis gerakan tanah adalah rayapan (creeping) yang terlihat dengan retakan-retakan, nendatan, dan amblasan pada tanah dan rumah penduduk. Retakan tersebar dari lereng bagian atas hingga bagian bawahnya.

Dampak gerakan tanah adalah 6 (enam) rumah hancur, 17 rumah rusak berat, 24 keluarga mengungsi dan jalan dusun rusak berat.

Badan ini juga memberikan rekomendasi tekhnis tentang lokasi relokasi. Seperti mengantisipasi terhadap potensi gerakan tanah dengan tidak mendirikan bangunan atau fasilitas umum yang berdekatan dengan bukit. Demikian juga dengan mempertimbangkan lembah alur sungai kecil di sebelah utara dan timur laut rencana tempat relokasi.

Serta mempertimbangkan tata guna lahan sawah/kolam di atas lokasi relokasi, meminimalisir pengurugan tanah untuk keperluan tempat relokasi, dan pemotongan lereng jangan terlalu terjal. (*)

  • Bagikan