CILACAP – Rumah sakit milik pemerintah maupun swasta yang ada bagian barat Cilacap, masih jauh dari kata ideal. Ini dengan melihat jumlah tempat tidur untuk pasien, dengan jumlah penduduk di wilayah barat Cilacap.
Pemerintah Cilacap sejak 27 tahun lalu, sudah memiliki 2 rumah sakit. Yakni RSUD Cilacap di pusat kabupaten dan RSUD Majenang yang ada di sisi barat. Dalam perkembangannnya, ada penambahan rumah sakit dari swasta.
Rektor Universitas Al Irsyad Cilacap, Sarwa Amk, SPd, MKes mengatakan, saat ini rumah sakit di barat Cilacap ini belum ideal sama sekali. Indikator utama adalah jumlah tempat tidur dibandingkan warga di Majenang dan daerah sekitar.
“Majenang dan daerah penyanggan punya penduduk sekitar 4 ribu. Tapi kapasitas tempat tidur di RSUD Majenang dan juga milik swasta, masih sangat sedikit,” katanya saat Forum Konsultasi Publik di RSUD Majenang, Rabu (28/5/2025).
Dia menyebut, rumah sakit swasta di sisi barat Cilacap ada 3. Dua berada di Majenang, satu lagi di Sidareja. Namun, total tempat tidur di seluruh rumah sakit di barat Cilacap ini belum ideal. Hingga dia menyebut, tantangan kedepan adalah memperbanyak tempat tidur guna mengimbangi pertumbuhan penduduk.
“RSUD Majenang harus bisa menambah tempat tidur. Kalau masih seperti sekarang, 10 tahun kedepan akan lebih sulit,” katanya.
Direktur RSUD Majenang, dr Reza Prima Muharama menyebut, pihaknya ada keterbatasan untuk terus menambah tempat tidur. Saat ini, rumah sakit tersebut ada 164 tempat tidur pasien.
“Kenaikan tipe rumah sakit tidak hanya berdasarkan tempat tidur. Tapi yang utama adalah pemenuhan SDM seperti dokter spesialis, perawat, bidan dan lain-lain,” terangnya.
“Juga pemenuhan sarana dan prasarana medis lainnya,” kata dia.
Saat ini, RSUD Majenang memiliki 24 dokter spesialis, 3 dokter gigi dan 2 dokter tamu. Salah satu dokter tamu ini spesialis di bidang kesehatan mental atau jiwa. Dia menyebut, RSUD Majenang menjadi rumah sakit pertama yang memiliki layanan cuci darah. (*)
