News  

Warga Cilacap Bersihkan Keris dan Tombak di Pendopo Tijani Wijayakusuma

Penjamas tengah membersihkan keris dan benda pusaka saat jamasan di pendoopo Tijani Wijayakusuma. Jamasan di pendopo Tijani Wijayakusuma tahun ini terbuka bagi masyarakat umum. (bercahayanews.com)

CILACAP – Sejumlah warga dan tokoh masyarakat di Cilacap, menggelar tradisi jamasan, atasu mensucikan benda pusaka, Rabu (1/7/2026) di pendopo Tijani Wijayakusuma di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang. Benda pusaka ini berupa keris dan tombak yang memiliki nilai tradisi yang sangat kuat. Beberapa keris merupakan warisan dari sejumlah tokoh besar di Pulau Jawa dan berasal dari kalangan berdarah biru.

Prosesi jamasan diawali dengan kirab atau iring iringan petugas pembawa keris. Seluruh petugas menggenakan baju adat jawa, dan juga dipayungi. Mereka membawa tiga bilah keris pusaka menuju Pendopo Tijani Wijayakusuma. Setelah itu, mereka menyerahkan keris kepada tokoh yang hadir untuk kemudian menjalani proses jamasan di pendopo Tijani Wijayakusuma.

Selama proses ini berlangsung, ada alunan musik gamelan jawa yang dari pegiat ataupun anggota komunitas seni.

Salah satu tokoh yang datang adalah Tatto Suwarto Pamuji. Bupati ke 17 Cilacap ini, menerima tombak Kyai Wicaksono untuk kemudian menjalani proses jamasan di pendopo Tijani Wijayakusuma.

Dia menyebut, tradisi jamasan ini harus di jaga dan dirawat bersama-sama. Karena tradisi seperti ini, bisa menjaga ciri khas sebuah daerah.

“Nguri uri budaya versi Cilacapan bisa berupa temata, temua dan rumangsa,” katanya.
“Semua ini agar anak keturunan kita tahu kalau budaya nenek moyang mereka seperti apa dan tidak hilang sama sekali,” katanya lagi.

Pendopo Tijani Wijayakusuma

Pimpinan Tijani Nusantara, Awan Ukaya mengatakan, jamasan pertama dengan melibatkan warga umum tergolong sukses. Ini karena minimnya persiapan dan juga masih butuh banyak pembenahan.

“Saya anggap sukses karena ini adalah awalan kita membuka jamasan untuk umum. Jadi komunitas dari beberapa komunitas yang ikut. Ada yang dari Dayeh Luhur, dari Wanarja, tadi juga dari Cimanggu juga ada. Nanti misalnya di tahun depan kita lebih meriahkan lagi,” terangnya.

Dia berharap, akan lebih banyak kegiatan lain di tempat ini dengan tetap melibatkan warga umum. Dengan demikian, masyarakat akan lebih mengenal budaya mereka masing-masing.

“Nanti kita sering akan ngumpul-ngumpul dengan teman-teman seni, dengan pecinta-pecinta seni, dengan pecinta ceminta budaya di sini secara sehat. Karena apa? Karena pertemuan-pertemuan seperti ini kan sekarang jarang. Jadi kita akan buka lagi silaturahmi dengan teman-teman seni,” tegasnya.

Camat Majenang, Aji Pramono berharap tradisi jamasan di pendopo Tijani Wijayakusuma bisa dilanjutkan. Dengan tradisi seperti ini, maka generasi muda akan lebih mengenal jati diri dan juga warisan budaya.

“Anak muda bisa mengenal benda pusaka yang ada di daerah mereka,” kata dia. (*)