religi  

Apakah Buraq dalam Isro Mi’roj Itu Seekor Kuda?

ilustrasi

CILACAP – Kata Buraq selalu muncul bersamaan dalam peristiwa Isro dan Mi’roj. Peristiwa ini menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad SAW melakukan perjalan dari Masjidil Haram dalam satu malam.

Isro merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa. Sementara itu, Mi’roj adalah kelanjutan perjalanan beliau dari Baitul Maqdis menuju Sidratul Muntaha di langit ketujuh.

Melansir laman muhammadiyah.or.id menyebutkan, kata “Buraq” berasal dari bahasa Arab yakni “barqun,” yang berarti kilat. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 20:

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ

“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka.”

Ungkapan ini menggambarkan kilat yang sangat terang hingga membuat orang yang melihatnya kehilangan penglihatan sejenak. Nama “Buraq” mungkin muncul karena kecepatan luar biasanya saat mejadi kendaraan Nabi Muhammad dalam perjalanan Isro dan Mi’roj.

Hadis riwayat Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Telah dibawa kepadaku seekor Buraq, seekor binatang putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighal. Kukunya menjejak di tempat yang dapat dijangkau oleh matanya…” (HR. Bukhari No. 162).

Hadis ini menunjukkan bahwa Buraq merupakan makhluk berbentuk hewan dengan ciri khas tertentu. Saat Nabi Muhammad tiba di Masjid Al-Aqsha, malaikat Jibril mengikat Buraq di dinding sebelah barat. Belakangan, orang menyebut dinding ini “Dinding Buraq.” Setelah melaksanakan shalat, Nabi kembali menaiki Buraq untuk naik ke langit dan kembali ke Makkah dalam waktu semalam.

Beberapa literatur Islam klasik menggambarkan Buraq dengan beragam rupa. Lalu ada yang membandingkannya dengan Pegasus, kuda bersayap dalam mitologi Yunani.

Namun, mendiskusikan secara mendalam bentuk fisik Buraq dalam peristiwa Isro Mi’roj, bukanlah hal utama. Fokus utama dalam perjalanan Isro dan Mi’roj adalah keajaiban peristiwa tersebut dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya. (*)