JAKARTA – Pertamina akhirnya mengakui secara jujur tentang seluruh hal terkait kasu korupsi yang menyeret 7 pejabat penting di BUMN tersebut. Secara terbuka, petinggi perusahaan plat merah ini minta maaf kepada publik melalui siaran pers dan kanal youtube Pertamina.
Kasus korupsi yang menyeret 7 orang, tengah dalam proses di Kejaksaan Agung (Kejakgung). Penyidik di Kejakgung menyebut, potensi kerugian negara dari 2018 hingga 2023 bisa mencapai Rp 968,5 triliun. Atau hampir 1 kuadriliun.
Tentu saja, potensi kerugian negara ini membuat publik marah atas kasus korupsi di Pertamina. Merekak kian marah jika sudah menghitung kerugian akibat perbaikan mesin kendaraan.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri secara terbuka meminta maaf atas kegaduhan akibat korupsi di tubuh perusahaan plat merah itu.
“Saya, Simon Aloysius Mantiri, sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero), menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia atas peristiwa akhir-akhir ini,” kata dia.
Dia mengapresiasi langkah Kejakgung dan siap memberikan dukungan jika penyidik masih membutuhkan. Seperti memberikan dokumen pelengkap ataupun keterangan yang akan mempercepat proses hukum.
Dia juga menyadari, kasus mega korupsi di Pertamina sudah membuat resah masyarakat. Karena itu, Pertamina memastikan produk bahan bahar minyak sudah sesuai standar Direktorat Minyak dan Gas di Kementerian ESDM.
Baru baru ini, pihaknya bersama Lemigas melakukan uji sampling terhadap semua produk bbm Pertamina. Mulai dari Pertalite, Pertamax, Pertamax Racing hingga Pertamax Turbo. Mereka mengambil sample dari 75 berbagai lokasi. Termasuk Depo Plumpang, 37 SPBU di Jakarta, Depok, Bogor dan Tangerang Selatan.
“Hasil uji laboratorium, kualitas BBM Pertamina telah sesuai standar spesifikikasi yang disyarakatn Direktorat Minya dan Gas di Kementerian ESDM,” tegasnya. (*)






