JAKARTA – Sebuah kisah menggetarkan hati datang dari Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Mushala pesantren itu runtuh pada Senin (29/9/2025), menimpa sejumlah santri yang sedang berada di dalamnya. Beberapa santri terluka, dan beberapa lainnya meninggal dunia.
Pada Kamis (2/10/2025), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjenguk para korban dan mendengarkan kisah mereka yang selamat. Salah satu santri menceritakan dengan suara bergetar bagaimana ia tetap menunaikan shalat di bawah reruntuhan. Tubuhnya terjepit dan hampir tidak bisa bergerak, namun ia menunaikan shalat dengan isyarat mata sebagaimana diajarkan orang tuanya. Ia sempat membangunkan temannya, “Ayo shalat, ayo shalat.”
Santri itu mendengar seseorang mengimami shalat dari dekat. Namun menjelang Subuh, sahutan temannya tak lagi terdengar. Ia menyadari bahwa temannya telah mendahului untuk berpulang ke sisi Allah sambil menunaikan ibadah terakhirnya. Kisah ini menegaskan keteguhan iman para santri meski dalam kondisi terjepit.
shalat merupakan tiang utama agama Islam.
Dalam tinjauan fiqih, shalat merupakan tiang utama agama Islam. Ulama menegaskan bahwa shalat wajib dilakukan selama akal seseorang sehat. Dalam kondisi sulit, seperti terjepit reruntuhan, seseorang boleh menunaikan shalat sesuai kemampuan, meski hanya dengan isyarat.
Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab bahwa orang yang terikat atau tertimbun tetap wajib menunaikan shalat dengan isyarat kepala atau mata. Imam al-Muzani menambahkan, shalat yang dilakukan tepat waktu meski tidak sempurna tidak wajib diulang.
Para ulama menyimpulkan, seseorang yang hanya mampu menggerakkan mata tetap wajib menunaikan shalat. Ia bisa membuka mata sebagai tanda berdiri atau rukuk, dan menutup mata lebih lama sebagai tanda sujud.
Kisah santri yang tetap melaksanakan shalat di bawah reruntuhan menunjukkan keteguhan iman di tengah cobaan. Dalam kondisi antara hidup dan mati, ia tetap mengingat Allah, sejalan dengan firman-Nya dalam QS. At-Taghabun [64]:16: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
Kejadian ini menjadi pengingat bagi seluruh warga pesantren untuk tetap menjaga hubungan dengan Allah dalam setiap keadaan, sekaligus menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama. (*)






