Ahli UGM Bagi Tips Pertolongan Pertama pada Keracunan Akibat Keracunan MBG

ilustrasi

YOGYAKARTA – Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan perhatian serius terkait keamanan pangan di sekolah. Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K), berbagi tips tentang pertolongan pertama pada keracunan.

Namun yang lebih penting, adalah edukasi kepada masyarakat dan tenaga pendidik. Yakni melakukan langkah pertolongan pertama pada keracunan agar penanganan secara cepat dan tepat saat gejala muncul.

Tri menjelaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan antara alergi dan keracunan makanan karena keduanya memiliki mekanisme yang berbeda.

“Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu, sedangkan keracunan makanan terjadi akibat masuknya kuman atau zat berbahaya ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman,” ujar Tri di Yogyakarta di situs resmi UGM.

Menurutnya, alergi dapat menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran napas, hingga anafilaksis. Sementara keracunan makanan biasanya menimbulkan sakit perut, muntah, dan diare beberapa jam hingga hari setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi.

Tri menyebut sebagian besar kasus keracunan bersifat ringan dan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus. Namun beberapa jenis bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan infeksi berat.

“Salmonella dapat menyerang mukosa usus dan memicu peradangan. Sedangkan E. coli penghasil toksin Shiga bisa menyebabkan penyakit tular makanan yang serius,” paparnya.

Langkah Pertama

Dalam konteks program MBG, Tri menekankan langkah pertolongan pertama pada keracunan harus fokus pada pencegahan dehidrasi akibat muntah dan diare.

“Langkah utama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Penderita sebaiknya banyak minum air putih atau cairan dengan tambahan elektrolit. Jika muntah masih terjadi, minum sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Ia menambahkan, demam yang muncul pada kasus keracunan merupakan mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi.

“Peningkatan suhu tubuh membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan memperkuat sistem kekebalan tubuh,” katanya.

Untuk mencegah kasus serupa, Tri menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap seluruh rantai produksi makanan MBG — mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.

“Setiap tahapan bisa menjadi titik masuk bakteri, virus, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, penerapan standar kebersihan wajib dilakukan secara menyeluruh,” tegasnya.

Ia menutup dengan pesan agar masyarakat dan pihak sekolah memperkuat pemahaman terhadap perbedaan alergi dan keracunan makanan serta pentingnya tindakan cepat saat gejala muncul.

“Kuncinya ada pada kebersihan, mutu bahan pangan, dan kesiapan memberi pertolongan pertama ketika keracunan terjadi,” pungkas Tri.