JAKARTA – Jalur mudik di Pulau Jawa, sangat rawan terancam gempa dan tsunami. Bencana tersebut bisa berakibat fatal bagi para pemudik yang menggunakan transportasi darat.
Masalah besar selalu menghadang pemudik berupa macet. Belum lagi kondisi jalan rusak, geografi, geologi, serta ancaman gempa dan tsunami di jalur mudik. Apalagi, Indonesia berada di rawan gempa. Tercatat ada 14 segmen sumber gempa subduksi/megathrust dan 402 segmen sumber gempa sesar aktif.
BMKG menunjukkan bahwa setidaknya ada 13 kejadian gempa dan tsunami yang pernah terjadi bertepatan dengan libur keagamaan. Sebut saja Tsunami Biak pada 1996 yang bertepatan dengan Idul Fitri. Terakhir adalah Gempa Ransiki 2024 lalu yang juga pas Idul Fitri.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Dr Daryono SSi MSi dalam siaran pers menyebutkan, pemudik perlu bekal pengetahuan mitigasi.
“Ada 9 hal penting yang perlu pemudik pahami sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap potensi gempa dan tsunami di jalur transportasi darat selama libur Lebaran,” ujarnya.
Pertama adanya rekahan di permukaan jalan akibat pergeseran jalur sesar aktif. Lalu jalan terbelah saat tanah lunak terguncang. Ketiga yakni likuefaksi di jalan raya. Likuefaksi merupakan momen saat tanah kehilangan kekuatan pasca gempa.
Guncangan gempa di jalan raya, lanjutnya, dapat menimbulkan tabrakan saat rombongan kendaraan berjalan beriringan. Dan kelima roda selip saat guncangan gempa terjadi. Kendaraan bisa terlempar dan terbalik.
Hal berikutnya adalah, gempa kuat dapat merobohkan bangunan di tepi jalan. Mulai dari pagar, gapura, monumen, baliho, tiang listrik ataupun telepon.
“Gempa yang sangat kuat bahkan bisa meruntuhkan jalan layang,” katanya.
“Saat gempa terjadi di perbukitan bisa menimbulkan tebing longsor. Atau saat gempa dangkal yang berpusat di laut bisa memicu tsunami dan menerjang jalur mudik,” katanya.
“Pemudik wajib memiliki aplikasi informasi gempa dan peringatan dini tsunami BMKG serta menghindari jalur mudik di tepi pantai saat ada peringatan dini tsunami,” tegasnya. (*)






