News  

Balita Terkena TBC dan Gizi Buruk Diawasi Ketat

ilustrasi

CILACAP – Kasus balita yang terkena gizi buruk dan terjangkit TBC, kini dalam pengawasan ketat petugas medis. Dia sempat mendapatkan perawatan karena mengalami gangguan napas di RSUD Majenang selama beberapa hari.

Kasus balita penderita gizi buruk di Cilacap kembali mencuat. Bahkan anak tersebut sempat dilarikan ke RSUD Majenang karena mengalami sesak napas. Bayi itu berinisial A dan berumur 19 bulan.

Usai mendapatkan perawatan, balita yang terkena gizi buruk dan mengidap TBC ini boleh pulang. Namun demikian, anak tersebut harus tetap menjalani perawatan medis.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Majenang, dr Nur Cahyo memastikan, balita tersebut masih dalam pemantauan dokter spesialis dan tenaga medis.

“Memang sudah pulang, tapi tetap kita pantau,” katanya, Rabu (6/9/2023).

Dia menjelaskan, proses penyembuhan pasien penderita TBC membutuhkan waktu panjang. Biasanya butuh 6 bulan sampai kemudian benar-benar sembuh. Ini dengan catatan penderita tetap menjalani perawatan dan mengkonsumsi obat tanpa henti sesuai arahan dokter.

Dan di kasus balita tersebut, bisa saja perawatan lanjutan ada di puskesmas terdekat. Ini semua berdasarkan pertimbangan medis dari dokter spesialis anak yang menanganinya.

“Bisa saja nanti dokter memutuskan, perawatan lanjut cukup di puskesmas. Jadi obat dari puskesmas,” katanya.

Nur Cahyo memastikan, balita ini terkena gizi buruk karena menderita TBC. Hingga pengobatan pertama tentu menyembuhkan balita tersebut dari paparan TBC.

“Masalah dia terkena gizi buruk kan karena kena TBC. Jadi kita harus sembuhkan TBC-nya,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Puskesmas Majenang 2, Nunung Tri Susilowati mengatakan, kondisi balita gizi buruk ini sudah terpantau sejak penimbangan serentak, setahun lalu. Setelah itu, pihaknya terus melakukan pemantauan dengan melibatkan bidan dan kader desa setempat.

“Sudah terpantau sejak pentak kemarin,” kata Nunung, Selasa (5/9/2023).

Dia menambahkan, kondisi balita tersebut memang ada ciri gizi buruk. Yakni dengan melihat indikasi berat badan yang jauh di bawah umur. Anak ini terlihat lebih kurus karena ada penyakit penyerta.

“Juga terpantau gizi kurang,” katanya. (*)