JAKARTA – Pedagang sate dari Mandailing, Natal, Sumatera Barat bisa naik haji usai menabung selama 55 tahun. Dia adalah Asma Tanjung binti Muhammad Khatib Sulaiman (78 tahun).
Perjalanan hidup Asma Tanjung, bak sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Kesamaannya adalah, keduanya menjadi pedagang kecil dan bisa berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Dan untuk bisa sampai pada titik ini, butuh proses dan perjalanan panjang.
Asma tahu betul arti kata proses panjang. Dia sudah menabung selama 55 tahun, hasil menyisihkan sisa keuntungan sebagai pedagang sate di Pasar Baru Panyabungan.
Profesi ini sudah dia jalani sejak 1970. Sejak awal, Asma Tanjung dan suaminya menanamkan niat untuk naik haji bersama, meski hanya berstatus sebagai pedagang sate. Dan tiap hari, dia selalu menyisihkan keuntungan untuk masuk rekening tabungan.
Meski hidup dalam kesederhanaan, ibu dari lima anak ini tak pernah putus asa. Bersama suaminya, mereka terus memupuk mimpi dan niat untuk naik haji. Tentu, selalu ada tantangan selalu yang datang. Tidak jarang, kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan mendedak, membuat mereka surut satu dua langkah ke belakang. Dan saat malam tiba, Asma selalu memanjatkan doa agar keinginan itu bisa benar-benar terwujud.
Sayang, pada 2009 suaminya meninggal dunia. Kepergian suami tercinta tidak menghentikan niat pedagang sate ini untuk bisa naik haji. Namun justru keinginannya kian kuat. Hingga pada 2012, dia mendaftarkan tabungan haji pertamanya.
Kini, setelah 55 tahun berjuang dan menabung, pedagang sate ini benar-benar bisa naik haji. Dia tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 05 Embarkasi Medan dan berangkat pada 5 Mei 2025. Ia berangkat bersama ratusan jemaah haji lainnya dari Masjid Agung Nur Ala Nur Aek Godang, Desa Parbangunan Kecamatan Panyabungan.
“Namanya Asma Tanjung binti Muhammad Khatib Sulaiman (78 tahun). Nenek yang bekerja sebagai pedagang sate di Panyabungan ini berbagi cerita keberhasilannya mewujudkan mimpinya untuk bisa naik haji,” tulis Kementerian Agama di laman kemenag.go.id. (*)






