Desa Rawan Banjir Capai 131

  • Bagikan
131 desa di Kabupaten Cilacap rawan banjir. BPBD Cilacap menyebut ancaman bencana alam terjadi karena pengaruh kondisi geografis, geologis, demografi maupun hidrologis. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Desa rawan banjir di Kabupaten Cilacap jumlahnya sangat mengejutkan. Dari 169 desa dan 15 kelurahan, ada 131 desa yang masuk kategori rawan banjir.

Luapan sungai menjadi penyebab utama kerawanan banjir. Kabupaten Cilacap dialiri banyak sungai besar. Mulai dari Serayu, Cikawung sampai dengan Citanduy yang menjadi batas Jawa Tengah dan Jawa Barat. Seluruh sungai ini bermuara di Segara Anakan dan berada di selatan pusat kota Cilacap.

Tingginya potensi banjir ini terpengaruh oleh kondisi geografis, geologis, demografi maupun hidrologis wilayah terluas di Jawa Tengah itu. Kabupaten Cilacap kemudian mendapatkan julukan sebagai “Supermarket Bencana” atau “Laboratorium Bencana”.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Wijonardi mengatakan, wilayah ini punya banyak potensi dan ancaman bencana. Hingga kemudian muncul sebutan Supermarket Bencana.

“Ada banjir, tanah longsor, kekeringan, angin kencang sampai dengan tsunami,” kata Wijonardi.

Secara prosentase, desa rawan bencana di Kabupaten Cilacap mencapai 48,6 persen. Rianciannya adalah 131 desa rawan banjir, 94 desa rawan tanah longsor, 73 desa rawan kekeringan dan 38 desa rawan tsunami. Ini kemudian membauat hampir semua kecamatan ada potensi bencana.

Karena itu, Wijonardi meminta agar masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrim berupa hujan deras, kilat, angin kencang sampai puting beliung. Dampak dari cuaca ekstrim ini adalah banjir, tanah longsor, pohon tumbang dan jalan licin.

“Warga harus mewaspadai potensi cuaca ekstrim,” katanya.

Hasil analisis dinamika atmosfer oleh BMKG Semarang menunjukkan kalau ada Siklon Tropis Malou dan bibit siklon di belahan bumi utara dan menyebabkan terbentuknya belokan angin di wilayah Jawa Tengah.

Selain itu, suhu muka laut yang hangat dan juga aktifnya fenomena gelombang atmosfer tipe Low Frequency, serta ketidakstabilan atmosfer. Semua ini membuat pembentukan awan cumulonimbus menjadi lebih intensif.

BMKG Ahmad Yani Semarang memprakirakan dalam periode 3 hari terjadi pertumbuhan awan cumulonimbus signifkan sejak 26 sampai 28 Oktober 2021. (*)

  • Bagikan