JAKARTA – Kini, banyak orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia, mengalami peningkatan signifikan dalam perasaan terasing dan kehilangan koneksi sosial yang menggambarkan wabah kesepian.
Banyak individu merasa terputus dari hubungan bermakna, meski berada di tengah keramaian atau aktif di media sosial.
WHO mencatat satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan persentase lebih tinggi pada remaja dan dewasa muda di negara berpenghasilan rendah.
Di Indonesia, satu dari lima orang mengaku merasakan kesepian setidaknya sekali dalam sepekan.
Kesepian yang dibiarkan dapat memicu gangguan tidur, penurunan konsentrasi, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Individualisme ekstrem, ketergantungan pada teknologi, dan kehidupan anonim di kota besar menjadi faktor utama pemicunya.
Dalam perspektif tasawuf, kesepian terjadi akibat pergeseran nilai hidup yang mengabaikan prinsip keterlibatan sosial dan akhlak Sufi.
Imam Sahruwardi menekankan pentingnya mengamalkan akhlak Nabi sebagai penawar dari wabah ini.
Ajaran Tasawuf sebagai Obat Wabah Kesepian
Seseorang dapat mengurangi kesepian dengan hidup bermasyarakat dan bersabar menghadapi dinamika interaksi sosial.
Keterlibatan sosial yang diiringi kesadaran spiritual mampu meredakan perasaan terasing.
Ketergantungan berlebihan pada teknologi sering membuat seseorang melupakan zikir dan shalawat, sehingga memperparah kesepian.
Menghadiri majelis zikir dan mengingat Allah serta Rasul-Nya menjadi cara ampuh mencegahnya.
Hidup di kota besar yang mendorong pola individualistis membuat tantangan mengatasi kesepian semakin besar.
Riset menunjukkan anak muda yang kesepian cenderung jauh dari nilai-nilai tasawuf.
Imam Daud at-Tha‘i mengajarkan zikir sebagai “air” yang menghilangkan dahaga spiritual.
Yahya bin Mu‘adz menekankan pentingnya mengingat Allah secara terus-menerus agar hati tidak gersang.
Imam Wahab bin Munabbih mengingatkan bahwa hati yang kosong dari gizi rohani akan “mati” dan mudah terserang kesepian.
Mempraktikkan nilai akhlak Sufi, seperti keterhubungan batin dan kehidupan sosial yang sehat, menjadi kunci utama mengatasi wabah kesepian.
Ketika hati senantiasa terhubung pada Allah, bisingnya dunia digital tak lagi mampu menguasai jiwa. (*)






