religi  

Hikmah Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram. Catat Keutamaannya

ilustrasi AI

JAKARTA – Islam sangat menganjurkan untuk menyantuni anak yatim di bulan Muharram, khususnya pada 10 Muharram atau Hari Asyura. Amalan ini mengandung hikmah mendalam secara spiritual, sosial, dan psikologis bagi umat Muslim.

Dalam Islam, perhatian terhadap anak yatim ada dalam Al-Qur’an surah Ad-Duha ayat 9. Nabi Muhammad juga memperkuat perintah itu dengan hadits. Isinya menajar orang yang mengurus anak yatim akan dekat dengannya di surga.

Laman baznas.go.id menurunkan tulisan tentang hikmah menyantuni anak yatim saat bulan Muharram. Dan menyantuni anak yatim, ternyata sudah menjadi tradisi bagi muslim di Tanah Air. Berbagai lembaga, ormas islam hingga kelompok masyarakat selalu berbagi dengan anak yatim tiap tahun.

Ulama klasik Abu Laits As-Samarqandi menyebut, mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura mendatangkan pahala besar. Selain sebagai bentuk ibadah, menyantuni yatim juga menjadi wujud syukur atas nikmat Allah. Ini mengingat Hari Asyura juga merupakan momen peringatan hari keselamatan Nabi Musa AS dari Firaun.

KH Sholeh Darat dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah menjelaskan, melapangkan nafkah pada Hari Asyura anak yatim akan membawa kelapangan rezeki sepanjang tahun. Hal ini merujuk pada hadits dari At-Thabarani dan Al-Baihaqi.

Dari sisi psikologis, perhatian terhadap anak yatim terbukti meningkatkan rasa aman, kepercayaan diri, dan kebahagiaan emosional mereka. Bagi pelakunya, menyantuni yatim juga meningkatkan empati dan kedamaian batin, karena berbagi terbukti dapat meningkatkan hormon kebahagiaan seperti dopamin dan serotonin.

Amalan menyantuni anak yatim saat bulan Muharram, bisa berupa pemberian bantuan materi. Atau kegiatan kebersamaan, mengusap kepala anak yatim dengan doa, hingga berpuasa pada Hari Asyura.

Hikmah Menyantuni Anak Yatim di bulan Muharram adalah amalan yang kaya akan makna dan manfaat. Dari sisi spiritual, amalan ini mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sedangkan sisi sosial, amalan ini memperkuat solidaritas umat Islam. Dari sisi psikologis, amalan ini membawa kebahagiaan bagi anak yatim dan pelaku kebaikan. (*)