religi  

Khutbah Jumat: Refleksi Akhir Safar, Songsong Datangnya Maulid

Safar harus menjadi momentum untuk muhasabah, menata kembali hati, memperbaiki amal, dan meluruskan keyakinan.(doc/nu online)

JAKARTA – Safar harus menjadi momentum untuk muhasabah, menata kembali hati, memperbaiki amal, dan meluruskan keyakinan. Sementara itu, Datangnya Maulid harus menjadi pengingat untuk memperkuat cinta kepada Nabi Muhammad dengan meneladani akhlaknya dan menebar kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, mari kita menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT yang telah memberikan panduan dalam menjalani kehidupan. Allah menentukan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan, sehingga kita dapat menjalani hidup sesuai rambu-rambu-Nya. Dengan menyadari hal ini, kita memperkuat tekad untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, menyongsong bulan Rabiul Awal yang penuh berkah.

Allah memerintahkan kita melalui Al-Qur’an untuk bertakwa sekaligus melakukan refleksi terhadap amaliah yang telah kita lakukan agar terus memperbaiki diri. Datangnya Maulid menjadi momentum penting untuk meneguhkan perbaikan diri sebagai modal menghadapi perjalanan hidup selanjutnya.

Bersiap Menyambut Datangnya Maulid

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa kesunyian bulan Safar menjadi waktu tepat untuk muhasabah, introspeksi, dan refleksi diri. Kita dapat memanfaatkan kesunyian ini untuk menata hati dan memperbaiki arah kehidupan, agar siap menyambut Datangnya Maulid dengan hati bersih dan tekad yang teguh.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, bulan Safar menjadi kesempatan untuk menyiapkan diri menyongsong Rabiul Awal. Bulan Rabiul Awal, atau Datangnya Maulid, menandai kelahiran Nabi Muhammad yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107:

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Dalam menyambut Datangnya Maulid, kita harus menumbuhkan cinta kepada Rasulullah melalui ibadah seperti bershalawat. Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, dan kita dianjurkan aktif bershalawat sebagai wujud penghormatan dan peneladanan akhlak beliau.

Kitab Kifayatul Atqiya menjelaskan bahwa Allah SWT menerima shalawat yang kita panjatkan kepada Nabi sebagai amal ibadah. Rasulullah bersabda bahwa setiap shalawat yang kita bacakan kepada beliau akan mendapatkan balasan sepuluh kali dari Allah, menghapus sepuluh dosa, dan mengangkat derajat sepuluh tingkat. Dengan demikian, Datangnya Maulid menjadi momentum spiritual untuk memperbanyak shalawat dan meneladani akhlak Rasulullah.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, menutup khutbah kali ini, mari kita gunakan akhir Safar sebagai momentum refleksi diri menghadapi Datangnya Maulid. Sambut Maulid dengan hati bersih, amal ikhlas, dan tekad memperbaiki diri. Jadikan bulan ini sebagai penguat keimanan, ketakwaan, dan cinta kepada Rasulullah, semoga Allah menjadikan setiap langkah kita penuh berkah dan cinta kepada Nabi Muhammad saw sebagai cahaya penuntun hingga akhir hayat. (*)