CILACAP — Maryono, warga asal Cilacap, Jawa Tengah, menjadi salah satu korban banjir yang melanda wilayah Aceh. Ia semat merasakan pahitnya tinggal di negeri orang saat bencana ini tiba. Penderitaan ini dia alami dalam pekan pertama pasca banjir di Aceh.
Saat pertama kali banjir datang, dia bersama istri dan sejumlah teman masih berada di pondok yang ada di tengah hutan. Pondok ini biasaya menjadi tempat berteduh, sepulang menyadap pinus. Namun malam itu, hujan turun sangat deras dan banjir longsor meluluhlantakan tempatnya berteduh.
Dia bersama sejumlah penghuni pondok, harus mencari temat perlindungan darurat lainnya. Baru setelah hujan reda, mereka berjalan kaki menuju kampuung terdekat selama 3 jam lebih. Setibanya di kampung, Maryono bertahan selama tiga hari.
“Di kampung ini sekitar tiga hari,” katanya.
Namun kondisi tidak kunjung membaik sehingga ia melanjutkan perjalanan menuju kota. Maryono menempuh perjalanan menuju kota selama dua hari satu malam dengan berjalan kaki. Mayoritas rombongan ini merupakan korban banjir Aceh dan sebagian dari Cilacap.
Ia menjelaskan kerusakan jalan terjadi di hampir seluruh jalur, termasuk wilayah Kota Bintang. Kerusakan tersebut membuat kendaraan tidak dapat melintas sama sekali.
Selama berada di Aceh, Maryono bekerja menyadap pohon pinus untuk mengambil getah. Ia sudah tinggal di Aceh selama sekitar lima bulan bersama istrinya. Anak-anaknya tidak ikut ke Aceh dan tetap berada di Desa Kutasari Kecamatan Cipari, Cilacap.
Maryono mengetahui rencana pemulangan korban banjir Aceh ke Cilacap dari sesama pengungsi. Meski begitu, ia mengaku bersyukur dan merasa senang setelah berhasil sampai di kota dalam kondisi selamat.
“Tahu dari rekan-rekan di pengungsian. Lalu saya memutuskan pulang,” katanya.
“Rasanya bersyukur bisa pulang ke Cilacap,” tegasnya. (*)






