CILACAP – Tempat tisu dari bahan limbah, tentu menjadi isu menarik bagi pemerhati lingkungan. Wadah seperti ini sering kali menggunakan bahan dasar plastik olahan industri berskala besar.
Tapi di mata 2 mahasiswa STMIK Komputama, tempat tisu bisa terbuat dari bahan limbah. Mereka memadukan pelepah pisang dan plastik daur ulang, untuk menjadi bahan yang punya nilai ekonomi.
Kedua mahasiswa STMIK Komputama Majenang adalah Firdaus Sari Asta dan Syakira. Mereka sukses menciptakan tempat tisu dari bahan limbah yang banyak tersedia di lingkungan. Produk berhasil mengantarkan keduanya meraih penghargaan dalam ajang Apresiasi Inovasi Mahasiswa yang digelar Pemkab Cilacap.
Berangkat dari kepedulian terhadap banyaknya limbah, Firdaus dan Syakira melakukan riset dan eksperimen sederhana selama lebih dari sebulan. Mereka mengembangkan proses pengeringan, penghancuran dan pencetakan pelepah pisang. Hingga tercipta lembaran bahan dasar untuk menjadi tempat tisu fungsional. Lalu memadukannya dengan serat plastik hasil daur ulang.
“Pelepah pisang memiliki serat kuat dan alami yang sebenarnya sangat cocok untuk dijadikan bahan dasar. Kami kombinasikan dengan limbah plastik agar lebih tahan dan bisa dikemas secara aman,” jelas Firdaus.
Tisu dari bahan limbah buatan mereka terbukti memiliki daya serap tinggi dan mudah terurai secara alami. Produk ini bisa menjadi solusi kreatif yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
“Kami ingin mengubah cara pandang terhadap limbah. Dengan pengolahan tepat, limbah bisa menjadi produk yang layak pakai dan bernilai jual,” ujar Syakira.
Inovasi ini mendapat sambutan positif dari para juri dan tamu undangan, termasuk Kepala Bappeda dan perwakilan Dinas Penanaman Modal Kabupaten Cilacap. Mereka menilai, ada potensi besar untuk mengembangkan tempat tisu ramah lingkungan dari bahan limbah.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STMIK Komputama Majenang, M Mustangin, menyebut inovasi tersebut sejalan dengan visi kampus sebagai pusat lahirnya solusi masa depan.
“Inovasi atau mati. Perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak perubahan, bukan sekadar lembaga pendidikan,” tegasnya. (*)






