News  

Penggunaan Rodamin di Makanan Kasus Lama

Tim gabungan saat memeriksa makanan di salah satu toko modern di Cilacap. Tim kerap mendapati makanan menggunakan Rodamin B yang merupakan pewarna tekstil. (narisakti/bercahayanews.com)

CILACAP – Penggunaan Rodamin di makanan sudah menjadi kasus lama dan sering menjadi temuan tim gabungan ketika melakukan pengecekan. Namun sepertinya, para produsen selalu mencari celah agar bisa berkelit dari petugas.

Seperti yang menjadi temuan tim gabungan Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap bersama Loka POM Banyumas. Tim kembali menemukan masih ada penggunaan Rodamin di makanan. Contohnya adalah karag atau kerupuk soto. Jauh sebelumnya, tim pernah menemukan kasus serupa dan sudah ada penangganan.

Dinas lalu menelusuri asal usul barang tersebut. Hingga mereka mendapatkan produsen kerupuk soto ini ada di Kecamatan Kedungreja, Cilacap.

“Tahun kemarin kita dapatkan produsen di Kedungreja. Kita dengan Loka Pom, Kominfo dan Dinas Kesehatan cek ke lapangan. Kita temukan dan komunikasikan dengna aparat desa,” ujar Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Pangan dan Perkebunan Cilacap, Agus priharso, S.Hut, MP.

Dia menambahkan, kerupuk ini tersebar di sejumlah pasar tradisional. Seperti di Pasar Kecamatan Cipari, Sidareja, Kedungreja dan Bantarsari.

Tim lalu menemui seluruh perajin dan memberikan penjelasan mengenai bahaya penggunaan Rodamin di makanan. Secara perlahan para produsen ini memahami dan meninggalkan penggunaan Rodamin.

“Dari 18 atau 16 produsen kerupuk itu sekarang sudah berubah. Tahun ini kita sudah tidak temukan lagi kerupuk soto yang pakai Rodamin,” katanya.

Penggunaan Rodamin di Makanan Kasus Lama

CILACAP – Penggunaan Rodamin di makanan sudah menjadi kasus lama dan sering menjadi temuan tim gabungan ketika melakukan pengecekan. Namun sepertinya, para produsen selalu mencari celah agar bisa berkelit dari petugas.

Seperti yang menjadi temuan tim gabungan Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap bersama Loka POM Banyumas. Tim kembali menemukan masih ada penggunaan Rodamin di makanan. Contohnya adalah karag atau kerupuk soto. Jauh sebelumnya, tim pernah menemukan kasus serupa dan sudah ada penangganan.

Dinas lalu menelusuri asal usul barang tersebut. Hingga mereka mendapatkan produsen kerupuk soto ini ada di Kecamatan Kedungreja, Cilacap.

“Tahun kemarin kita dapatkan produsen di Kedungreja. Kita dengan Loka Pom, Kominfo dan Dinas Kesehatan cek ke lapangan. Kita temukan dan komunikasikan dengna aparat desa,” ujar Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Pangan dan Perkebunan Cilacap, Agus priharso, S.Hut, MP.

Dia menambahkan, kerupuk ini tersebar di sejumlah pasar tradisional. Seperti di Pasar Kecamatan Cipari, Sidareja, Kedungreja dan Bantarsari.

Tim lalu menemui seluruh perajin dan memberikan penjelasan mengenai bahaya penggunaan Rodamin di makanan. Secara perlahan para produsen ini memahami dan meninggalkan penggunaan Rodamin.

“Dari 18 atau 16 produsen kerupuk itu sekarang sudah berubah. Tahun ini kita sudah tidak temukan lagi kerupuk soto yang pakai Rodamin,” katanya.

Menjelang nataru, makanan beracun dan rusak masih beredar di pasaran. Sejumlah pedagang kedapatan menjual makanan yang mengandung bahan kimia beracun di sejumlah pasar tradisional dan toko modern di Kabupaten Cilacap.

Makanan seperti ini menjadi temuan tim gabungan antara Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap yang menggelar intensifikasi menjelang nataru bersama Loka POM Banyumas. Sasarannya adalah pasar tradisional dan sejumlah toko modern.

Menurutnya, dinas tidak mengambil tindakan berupa penegakan hukum. Namun memilih membina para produsen tersebut agar meninggalkan penggunaan bahan berbahaya seperti Rodamin untuk makanan.

“Kita lebih persuasif dulu. Pendekatannya ke penjual,” tegasnya. (*)