News  

Penyapu Koin di Indramayu, Dedi Mulyadi Sebut Tidak Mendidik

ilustrasi

BANDUNG – Aktifitas penyapu koin di Kabupaten Indramayu, selalu muncul saat tiap tahun ketika lebaran. Lalu kebiasaan penyapu koin di Indramayu ini berkembang lagi. Hingga menjadi kebiasaan warga tiap arus mudik dan balik.

Para penyapu koin, selalu berada di sekitar jembatan Sewo yang memisahkan Indramayu dan Cirebon. Mereka akan berjajar di tepi jalan, memegang sapu yang akan mereka gunakan untuk mengumpulkan uang.

Dia kalangan pengemudi ada mitos saat melintas jembatan Sewo. Yakni melemparkan uang koin ke sungai yang membuat doa mereak terkabul. Kebiasaan ini lalu memunculkan sejumlah orang yang menunggu di tepi jalan. Tujuannya jelas, mereka akan memungut uang dari para pengemudi. Dan kebiasaan ini, sudah menjadi tradisi hingga sekarang.

Namun, kebiasaan dan tradisi ini penyapu koin di Indramyau, sekarang sudah berubah. Yang ada malah mengganggu arus lalu lintas. Terlebih saat arus mudik dan arus balik tiap lebaran yang selalu ramai oleh kendaraan. Kerap, para penyapu koin di Indramayu atau Cirebon sampai memakan separoh badan jalan. Tidak jarang, ada pengendara motor yang terjatuh karena menghindari warga yang tengah berebut koin.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebut tradisi ini tidak mendidik sama sekali. Mereka lebih menjadi penyapu koin karena berharap bisa mengumpulkan banyak uang.

“Menurut saya ini adalah kebudayaan tapi tidak ada unsur edukasi dan harus dibenahi,” kata Dedi.

Dia melihat, ini sebagai tantangan bagi pemimpin di wilayah tersebut. Yakni mempersiapkan warga agar tidak lagi menjadi penyapu koin tiap kali arus mudik dan arus balik. Caranya, tentu dengan menyiapkan lapangan pekerjaan yang tepat bagi mereka.

“Kita bubarin, mereka ada lagi. Kita bubarin, ada lagi. Artinya dia harus ada pekerjaan,” katanya.

“Kira-kira apa sih pekerjaan di situ yang membuat mereka tidak nyapu koin lagi. Dan ini harus dirumuskan bersama,” tegasnya. (*)