News  

Perang AS Iran, Operasional PLTU Paiton Tetap Normal

PLTU Paiton di Probolinggo saat malam hari. Manajemen memastikan operasional PLTU Paiton berjalan normal meski ada konflik di Timur Tengah. (doc/instagram)

PROBOLINGGO – Operasional PLTU Paiton di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur tetap berjalan stabil meski muncul potensi dampak dari perang AS dan Iran. Salah satu dampak tersebut adalah tersendatnya pasokan global untuk komoditas industri.

Chief Financial Officer PT Paiton Energy, Bayu Anggoro Widyanto mengatakan, perusahaan telah menyiapkan mengantisipasi kemungkinan gangguan rantai pasokan. Terutama terkait suku cadang pembangkit yang masih bergantung pada impor.

“Supply chain kita global. Sparepart pembangkit masih ada yang berasal dari luar negeri, itu yang perlu kita antisipasi jika konflik internasional berdampak pada jalur distribusi,” kata Bayu.

Bayu menjelaskan perusahaan telah melakukan analisis internal terkait potensi dampak konflik di Timur Tengah yang bisa berlangsung lama. Salah satunya dengan menyiapkan skenario untuk memastikan operasional PLTU Paiton tetap berjalan.

Bayu memastikan kondisi PLTU Paiton saat ini relatif aman. Seluruh jadwal pemeliharaan tahunan atau outage pembangkit juga telah selesai pada awal tahun 2026.

“Outage sudah selesai di awal tahun, sehingga sepanjang tahun ini tidak ada pemeliharaan besar yang membutuhkan banyak sparepart impor,” ujarnya.

Selain rantai pasok, perusahaan juga memantau perkembangan harga komoditas energi global. Konflik di kawasan Timur Tengah biasanya memicu kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memicu kenaikan komoditas energi lainnya.

Namun Bayu menilai pasokan batu bara sebagai bahan bakar utama pembangkit, masih relatif aman. Saat ini, pasokan batu bara sebagian besar berasal dari dalam negeri.

“Untuk batu bara pasokannya dari domestik. Jadi konflik di Timur Tengah tidak terlalu berdampak langsung,” katanya.

Meski begitu, harga batu bara tetap berpotensi meningkat karena mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia.

Sementara itu, tingginya permintaan listrik pada sistem kelistrikan Jawa–Bali juga memengaruhi kebutuhan bahan bakar pembangkit. Bayu menyebut capacity factor operasional PLTU Paiton saat ini bahkan telah melampaui target awal perusahaan.

“Dari target 80 persen, sekarang capacity factor kita sudah di atas 90 persen. Artinya konsumsi batu bara juga meningkat,” tegasnya. (*)