News  

3 Puskesmas Masih Tutup Akibat Banjir Longsor Sumatera

Sejumlah personil TNI tengah membersihkan puskesmas yang terkena banjir longsor di Sumatera. Kemenkes menyebut, tinggal 3 puskesmas di Sumatera yang masih tutup akibat bencana. (doc/puspen tni)

JAKARTA – Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 152 puskesmas rusak parah akibat banjir dan longsor yang melanda 3 provinsi di Sumatera pada November 2025. Hingga awal Januari 2026, Kementerian berhasil memulihkan sebagian besar layanan, sehingga hanya tersisa tiga puskesmas di Sumatera yang masih tutup.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, prioritas pemerintah yakni memulihkan puskesmas setelah rumah sakit terdampak bencana kembali beroperasi. Ini karena puskesmas berperan sebagai garda terdepan layanan kesehatan masyarakat. Terutama bagi warga di sekitar permukiman dan lokasi pengungsian.

“Dari 867 puskesmas yang terdampak, 152 sempat rusak berat dan berhenti total. Alhamdulillah, sampai awal Januari ini tinggal tiga puskesmas yang belum bisa beroperasi,” ujar Budi.

Budi merinci, 3 puskesmas yang masih tutup usai banjir Sumatera ada di Aceh Tengah (Rusip Antara) dan Aceh Tenggara (Jambur Lak Lak). Terakhir puskesmas Lokop di Aceh Timur.

Dari 3 puskesmas yang masih tutup di Sumatera, puskesmas Lokop mengalami kerusakan paling parah. Bangunan puskesmas ini roboh usai tertimpa material besar. Pemerintah memutuskan untuk membangun ulang fasilitas tersebut di lokasi baru yang lebih aman.

Menurut Budi, keberadaan puskesmas sangat krusial karena melayani masyarakat di lebih dari 1.000 titik pengungsian. Saat ini, jumlah pengungsi masih berkisar 200 ribu jiwa dan membutuhkan pemeriksaan kesehatan. Jika puskesmas sudah berfungsi, rumah sakit tidak lagi kewalahan.

“Kalau puskesmas berfungsi, warga tidak perlu langsung ke rumah sakit. Aksesnya lebih mudah dan pelayanannya lebih cepat. Apalagi di daerah terdampak bencana,” jelasnya.

Dalam proses pemulihan, Kementerian Kesehatan menggandeng berbagai unsur terkait termasuk relawan. Pemerintah membersihkan lumpur dan memperbaiki bangunan. Selain itu, mengganti alat kesehatan dan sarana pendukung lainnya yang rusak akibat banjir.

Budi menargetkan seluruh layanan puskesmas di wilayah terdampak dapat pulih sepenuhnya sebelum akhir Maret 2026. Atau bersamaan dengan masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Target kami, akhir Maret semua layanan kesehatan sudah kembali normal dan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan seperti sebelum bencana,” tegasnya. (*)