News  

Tradisi Sedekah Bumi di Cipari. Tidak di Bulan Suro

Wakil Ketua DPRD Cilacap, Syaiful Musta'in ikut dalam perayaan sedekah bumi di Kecamatan Cipari, Cilacap, Senin (12/6/2023). Sedekah bumi di Cipari digelar pada Dulqoidah, bukan di awal tahun Islam. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Sedekah bumi di Desa Pegadingan Kecamatan Cipari, Cilacap ternyata berbeda dengan tradisi serupa di tempat lain. Warga justru memilih bulan Zulkoidah yang menurut tradisi Jawa menjadi bulan api. Yakni bulan antara Syawal (Idul Fitri) dengan Zulhijah (Idul Adha).

Biasanya, warga menghindari bulan apit. Jarang sekali ada acara besar seperti tasyakuran, hajatan dan sejenisnya. Namun bagi warga Desa Pegadingan ini, bulan apit menjadi momen yang mereka pilih untuk menggelar sedekah bumi. Dan karena digelar pada bulan apit, warga menamainya dengan tradisi “apitan”.

Meski beda waktu, warga tetap menerapkan pakem tata urutan acara tahunan ini. Mulai dari menyembelih hewan ternah dan menanam kepala di pertigaan atau perempatan jalan besar. Baru setelah itu, mereka menggelar doa bersama dan menyantap menu yang sudah disediakan sebelumnya.

Kepala Desa Pegadingan, Dirun mengatakan, sedekah bumi di desa ini tersebar di sejumlah lokasi. Beberapa tempat melibatkan warga dalam jumlah besar karena sudah menjadi agenda rutin tahunan.

“Tahun ini, ada wilayah yang baru pertama kali menggelar sedekah bumi,” ujarnya, Senin (12/6/2023).

Dia menyebut, wilayah yang pertama kali menggelar tradisi ini ada di Dusun Cibatu, RT 005 RW 005. Dan tradisi tersebut mereka gelar di dekat mushola. Dan tepat di seberang jalan, ada komplek makam warga setempat.

Wakil Ketua DPRD Cilacap, Syaiful Musta’in yang hadir di acara tersebut mengatakan, sedekah bumi merupakan tradisi untuk merawat bumi. Yakni dengan tetap mempertahankan fungsi ekologi tanah sebagai penopang kehidupan warga. Terlebih warga desa yang banyak berkutat dengan pertanian.

“Ini cara warga merawat bumi agar bisa menghasilkan kemanfaatan bagi mereka,” katanya.

Dia menambahkan, warga percaya mereka akan mendapatkan imbal balik besar jika terus merawat bumi. Salah satunya dengan tersedianya air bersih sepanjang tahun. Termasuk saat musim kemarau seperti sekarang ini.

“Bumi memberikan hasil pertanian, tanaman selalu hijau dan air melimpah,” tegasnya. (*)