CILACAP – Suhu dingin terasa di beberapa wilayah saat musim kemarau, tidak terkecuali di Cilacap. Dalam sepekan terakhir, suhu terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari.
Hawa dingin terasa saat tengah malam hingga menjelang pagi. Tidak jarang, saat pagi hawa dingin masih tetap terasa.
Menurut BMKG, suhu dingin selama musim kemarau terjadi karena beberapa faktor. Seperti faktor ketinggian sebuah daerah, pengaruh pergerakan angin hingga tutupan awan.
BMKG dalam unggahannya di akun instagram @infobmkg menjelaskan secara detail seluruh faktor tersebut. Dalam video berdurasi 10 itu, ada penjelasan terkait hawa dan suhu dingin yang terjadi selama musim kemarua. Kencenderungan penurunan suhu ini kerap terjadi di periode Juli hingga Agustus.
Setidaknya ada 6 wilayah di tanah air yang pernah mencatat suhu terendah. Pertama di Stasiun BMKG Wamena, Jaya Wijaya yang mencatat suhu terendah mencapai 4,5 derajat dan terjadi pada Agustus dan des 2015. Lalu di Ruteng, NTT dengan suhu terendah 5,4 derajat pada Agustus 2023. Stasiun BMKG Toraja di Sulsel pernah mencatat suhu terendah mencapai 5,8 derajat pada Juli 2011. Demikian juga dengan Nunukan, Kaltim, Bandung dan Padang Panjang.
“Suhu udara cenderung dingin terjadi pada Juni hingga September,” ujar anchor di video tersebut.
Dia menjelaskan, penyebab suhu dingin selama kemarau karena faktor ketinggian, pergerakan angin dan cakupan awan. Daerah tinggi atau pegunungan cenderung berhawa dingin atau sejuk. Sementara pada musim kemarau, pergerakan dari Australia yang dingin tengah berhembus ke wilayah Khatulistiwa.
“Pergerakan angin dari Australia yang kering dan dingin ke daerah nusantara, membuat turunnya suhu udara di Indonesia,” kata dia.
Faktor lain adalah minimnya awan pada siang dan terutama pada malam hari. Sinar matahari pada siang tertangkap bumi dan pada malam hari akan keluar ke atas permukaan. Jika malam cerah tanpa awan, hawa panas akan keluar tanpa penghalang dan langsung menuju angkasa.
“Sehingga cauca lebih dingin,” tegas anchor di video tersebut. (*)






