JAKARTA – Mantan Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo dan Gibran, Ferry Latuhihin menyebutkan dia tolak keras pembentukan Danantara dari awal. Penolakan ini berdasarkan pertimbangan ekonomi. Dia melihat karena Danantara akan menjadi lembaga super tapi belum ada rencana bisnis yang jelas.
Hal ini dia bongkar semua di podcast youtube Akbar Faisal Uncensored. Dia dengan tegas mempertanyakan model bisnis dan “frame” bisnis yang akan digarap Danantara.
“Sejak awal harus jelas. Saya mau bangun warung tegal. Mau bangun tower tower. Ini harus jelas, tapi kan ini ga ada. Ini duit besar, duit rakyat,” katanya.
Dia menambahkan, ada 3 pertanyaan besar yang muncul sejak ada ide Prabowo menyusun pembentukan Danantara. Pertama adalah visi misi, lalu model bisnisnya dan terakhir bisnis framenya. Setelah ini terjawab, baru kemudian menghitung sumber daya manusia.
“Man power ini ada dua sisi. Pertama skill, kedua integrity. Kedua-duanya harus masuk,” kata dia.
“Dari kacamata ekonomi, saya melihat Danantara dari awal, is it necessary untuk mendirikan superholding kalo landasanya apa yang dikatakan Pak Sumitro (Djoyohadikusumo) di masa Orde Baru (untuk) mengelola deviden deviden BUMN,” katanya.
Rasa khawatir ini juga muncul karena faktor good governance yang masih menjadi isu besar. Belum lagi, pemerintah sering kali melakukan intervensi ke BUMN yang justru menimbulkan masalah.
Dia mengaku khawatir ide Prabowo untuk mendirikan Danantara akan bernasib seperti program serupa di Malaysia. Kebijakan pemerintah negeri jiran ini kemudian berujung pada kasus korupsi dan menjerat mantan PM, Najib Razak.
“Saya khawatir ini akan jadi 1MDB,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mendeklarasikan pendirian Danantara. Lembaga ini akan mengkonsolidasikan semua kekuatan ekonomi negara yang selama ada dalam pengelolaan BUMN. Danantara diharapkan akan menjadi kekuatan ekonomi dalam negeri di masa depan. (*)






