JAKARTA – Aksi premanisme berkedok ormas dan melibatkan tokoh besar seperti Hercules, butuh langkah tegas untuk menghentikannya. Dan untuk merubah mental premanisme, harus melibatkan para preman itu sendiri.
Aksi premanisme berkedok ormas yang sering kali mengganggun industri, sampai terjadi perang dengan polisi sudah sangat meresahkan. Kalangan industri mengaku sudah sering kali didatangi preman berkedok ormas dengan beragam permintaan. Yang paling menjadi sorotan adalah ormas GRIB di Depok bakar mobil polisi saat ada penangkapan.
Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono menyebut aksi premanisme termasuk yang melibatkan Hercules, memang harus dihentikan. Salah satu metodenya adalah melakukan perubahan dari dalam kelompok preman itu sendiri.
“Dalam tekhnik militer, agen perubahan perman adalah dia sendiri. Kalau kita mau merubah GRIB seperti yang kita mau, suruh saja Hercule bersiaran sendiri,” ujar Hendropriyono.
Dia menyebut, masalah premanisme di Indonesia sudah seperti kanker yang melekat pada sel tubuh. Hingga untuk mengobatinya, sel ini harus terlebih dahulu diperkuat untuk bisa melawan kanker.
Cara lain, katanya dengan meniru langkah Jepang saat berhadapan dengan kekautan Yakuza. Yakni membuat masyarakat punya kekuatan untuk bersama-sama menolak keberadaan ormas, atau kelompok preman.
“Bersama-sama atasi premanisme secara sistemik seperti di Jepang. Pemerintah punya saluran pelaporan khusus hingga warga bisa lapor tiap ada kejadian,” terangnya.
Lalu di saat bersamaan, ada regulasi khusus jika ada pelanggaran dari kelompok preman seperti di Jepang. Hingga aparat tidak lagi bergantung semata pada KUHP untuk menjerat aksi premanisme.
Konsep penangganan aksi premanisme ala GRIB dan ormas lainnya, adalah memastikan negara hadir di tiap waktu. Seperti memberikan rasa aman bagi warga, pelaku usaha hingga lainnya.
“Jangan sampai kemudian masyarakat justru bergantung pada kelompok preman,” tegasnya. (*)






