JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman angkat suara terkait harga beras naik saat stok nasional yang justru melimpah. Ia menyebut fenomena ini tidak masuk akal dan menegaskan perlunya investigasi terhadap dugaan permainan mafia yang menyebabkan gejolak harga.
“Stok kita sekarang sudah lebih dari 4 juta ton, posisi sangat aman. Tapi kenapa harga beras naik? Ini aneh,” ujar Amran.
Ia lalu memperlihatkan data data Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang menunjukkan kejanggalan pergerakan stok beras keluar-masuk. Terutama data sejak Januari 2025.
Menurut Amran, rata-rata beras yang keluar dari Cipinang berkisar 2.000–3.000 ton per hari. Namun, pada 28 Mei 2025, tercatat ada lonjakan drastis yakni 11.410 ton keluar dalam sehari. Akibatnya, stok harian langsung anjlok ke bawah 50.000 ton.
“Ini 3.000 ton, 4.000 ton, tiba-tiba 11.000 ton dalam sehari? Aneh kan? Ya selesai ini jawabannya (kenapa harga naik),” ucap Amran dengan nada tinggi.
Ia menuding adanya peran “middle man” atau perantara yang memainkan pasokan di tingkat konsumen. Meski harga beras di penggilingan justru turun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
“Artinya ada yang mempermainkan. Inilah yang terkadang kita sebut mafia,” tegasnya.
Amran mendorong adanya penyelidikan lebih lanjut terhadap distribusi beras di tingkat pasar. Juga tidak adanya praktek monopoli dari segelintir pihak. Ia juga meminta semua pihak untuk tidak bermain-main dengan kebutuhan pokok masyarakat.
Sebagai informasi, cadangan beras pemerintah (CBP) telah menembus 4 juta ton—rekor tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1969. Produksi beras nasional pun naik signifikan hingga 16,55 juta ton sepanjang Januari–Mei 2025, meningkat 11,95% dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Produksi tinggi, serapan tinggi, stok aman. Maka, kalau harga beras naik, itu bukan karena produksi. Harus dicari siapa yang bermain di tengah,” tutup Amran. (*)






