JAKARTA – Para ahli cuaca mendefinisikan kemarau basah sebagai kondisi hujan yang tetap turun saat seharusnya memasuki musim kemarau biasa. Biasanya, masyarakat Indonesia menghadapi musim kemarau dengan cuaca panas dan tanpa hujan, namun kemarau menepis pola itu. Fenomena kemarau basah tetap menghadirkan intensitas hujan tinggi, walaupun frekuensinya menurun, sehingga cuaca menjadi tidak menentu.
Kemarau meningkatkan pasokan air dan mendukung sektor perairan yang bergantung pada curah hujan berkala dan stabil. Namun, kemarau juga merugikan petani karena kelembapan berlebih menyebabkan gagal panen pada jagung, kedelai, dan kacang-kacangan.
Hama dan penyakit tanaman berkembang lebih cepat saat kemarau menghadirkan kelembapan tinggi dalam jangka waktu yang panjang. Petani kesulitan merencanakan tanam karena kemarau membuat pola hujan tidak sesuai dengan prakiraan musim sebelumnya.
Perubahan iklim global memicu kemarau yang memaksa masyarakat mengubah cara lama dalam mengelola musim dan pertanian. BMKG terus memantau atmosfer dan suhu laut agar masyarakat bisa mengantisipasi dampak buruk kemarau sejak dini.
BMKG mencatat kemarau biasa berlangsung April–Oktober dengan curah hujan rendah, suhu tinggi, dan kelembapan udara yang minim. Sebaliknya, kemarau basah menghadirkan hujan saat kalender menunjukkan musim kering akibat La Niña dan suhu laut hangat.
Aktivitas atmosfer seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby memperkuat peluang munculnya kemarau basah di beberapa wilayah. BMKG memprakirakan kemarau tahun 2025 akan berlangsung hingga Agustus di sejumlah daerah di Indonesia.
Kemarau basah biasanya memunculkan hujan ringan hingga sedang saat seharusnya terjadi musim kering pada bulan April–September. Tanaman tetap tumbuh subur saat kemarau terjadi, meskipun warga tidak melakukan penyiraman secara intensif setiap hari.
Langit tampak berawan dan udara terasa lembap ketika kemarau menggantikan kemarau kering yang biasanya lebih ekstrem. Sungai dan embung tetap terisi air karena kemarau mencegah penguapan tinggi dan kekeringan ekstrem di daerah tertentu.
Strategi Menghadapi secara Aktif
Warga perlu memantau informasi BMKG secara rutin untuk mengantisipasi datangnya kemarau basah dan perubahan pola hujan. Pemerintah daerah memperbaiki sistem drainase dan gorong-gorong agar kemarau basah tidak menyebabkan banjir di permukiman.
Petani mulai menyesuaikan jadwal tanam dan memilih tanaman yang tahan curah hujan tinggi saat menghadapi kemarau.
Kemarau menuntut warga daerah rawan bencana untuk selalu siaga, mempersiapkan evakuasi, dan menyimpan logistik darurat. Pemerintah dan organisasi masyarakat mengedukasi warga tentang kesehatan lingkungan agar dampak kemarau bisa diminimalkan. (*)






