JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan meluncurkan program Waste to Energy (WTE) pada akhir Oktober 2025. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebut program ini menjadi langkah nyata untuk olah sampah dan jadi sumber energi. Sekaligus punya manfaat lebih besar dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kepastian Danantara ikut membiaya program olah sampah jadi limbah muncul dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengolah Sampah Menjadi Energi di Wisma Danantara, Selasa (30/9/2025).
“Insyaallah kita ingin launching program ini pada akhir bulan Oktober,” kata Rosan.
Menurut Rosan, program WTE mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80 persen. Juga mampu, menghasilkan energi terbarukan, dan menghemat penggunaan lahan hingga 90 persen. Untuk tahap pertama program akan berjalan di Jakarta dengan 4–5 lokasi. Setelah itu akan berlanjut ke Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Bekasi, dan Tangerang.
Rosan menambahkan, Danantara dalam mendukung program olah sampah jadi energi secara transparan melalui mekanisme tender terbuka. Sekaligus membuka peluang investor swasta untuk terlibat. Pada kesempatan itu, ia juga memperkenalkan skema baru pengelolaan WTE. Yakni penghapusan tipping fee yang selama ini dibayarkan pemerintah daerah kepada pengelola fasilitas. Sebagai gantinya, Danantara menetapkan tarif flat sebesar US$0,20 per kWh.
Dengan kapasitas minimum 1.000 ton sampah per hari, Rosan menargetkan program WTE dapat menghasilkan lebih dari 15 MW listrik.
“Minimum kurang lebih 1.000 ton per hari, itu bisa menghasilkan sekitar 15 MW dan memberi kontribusi untuk 20.000 rumah tangga. Kami juga membutuhkan lahan sekitar 4–5 hektare untuk kapasitas tersebut,” jelasnya. (*)






