News  

Aksi Jarah Alfamart Terjadi di Sibolga, Warga Mengaku Khilaf dan Sampaikan Permintaan Maaf

Aksi jarah Alfamart terjadi di Jalan Suprapto, Sibolga, pada Sabtu, 29 November 2025. Insiden itu memperkeruh situasi kota yang sebelumnya sudah terdampak banjir dan longsor.(doc)

SIBOLGA – Aksi masa yang jarah Alfamart terjadi di Jalan Suprapto, Sibolga, pada Sabtu, 29 November 2025 viral dan menjadi perhatian pemerintah. Insiden itu memperkeruh situasi kota yang sebelumnya sudah terdampak banjir dan longsor.

Seorang pria bernama Muchlis kemudian muncul dan menyampaikan permintaan maaf melalui akun TikTok pribadinya.

“Kepada pemilik Alfamart saya minta maaf karena saya salah satu orang yang menjarah. Saya sebenarnya nggak ada niat untuk berbuat itu,” kata Muchlis, Senin, (1/12/2025).

Ia menjelaskan alasan dirinya ikut dalam aksi jarah Alfamart. Dia juga menyebut hanya mengambil kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

“Karena keterbatasan yang kami miliki dan terjebak banjir, kami tidak punya uang untuk membeli dan tidak ada bantuan sama sekali. Akhirnya saya ikut mengambil juga,” ujarnya.

“Tadi saya mengambil mi instan, air mineral, dan makanan ringan. Insyaallah kalau keadaan membaik dan saya sudah kembali bekerja, saya akan kembali ke Alfamart untuk membayar. Tadi saya ambil tiga bungkus mi instan, satu sudah saya masak untuk anak saya,” katanya.

Informasi lapangan menunjukkan warga memulai aksi jarah Alfamart dari gerai di Jalan Suprapto. Ratusan warga berkumpul di depan pintu besi toko, lalu mendobraknya. Setelah pintu jebol, mereka memecahkan kaca pembatas dan masuk ke dalam toko.

Orang dewasa, ibu-ibu, hingga anak-anak terlihat mengambil berbagai barang dari rak dan membawanya keluar. Warga juga sempat menghadang siapa saja yang mencoba merekam kejadian.

Aksi itu kemudian merembet ke Indomaret yang berada tidak jauh dari lokasi awal. Warga menduga situasi darurat pascabencana memicu aksi itu.

Di tengah kondisi tersebut, Sibolga kini menghadapi kelangkaan pangan. Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan pokok seperti beras, telur, ikan, daging, dan sayuran.

Distribusi BBM turut terganggu, antrean mengular di SPBU, dan stok gas habis. Banyak toko memilih tutup karena situasi tidak kondusif. (*)