religi  

Ciri Lailatul Qadar dari Tanda Alam Sesuai Hadis Rasululloh SAW

ilustrasi

JAKARTA – Umat Muslim dapat mengenali sejumlah ciri lailatul qadar melalui tanda-tanda alam seperti dalam beberapa hadis Nabi Muhammad SAW. Meskipun waktu pasti terjadinya malam tersebut tetap menjadi rahasia oleh Allah SWT.

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu ciri lailatul qadar terlihat pada pagi hari setelah malam tersebut. Matahari terbit dengan sinar yang tidak terlalu terik dan suasana udara terasa sejuk. Keterangan ini merujuk pada hadis riwayat Muslim.

Selain itu, kondisi malam juga menjadi salah satu tanda. Langit biasanya terlihat cerah tanpa awan, suasana terasa tenang dan sunyi, serta udara tidak terlalu panas maupun terlalu dingin.

Rasulullah SAW juga menjelaskan karakteristik malam tersebut dalam sebuah hadis.

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan,” (HR Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Meski demikian, para ulama sepakat kalau ciri tersebut tidak dapat menjadi patokan pasti untuk penentuan Lailatul Qadar terjadi.

Ulama hadis Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan tanda-tanda alam tersebut biasanya baru terlihat setelah malam Lailatul Qadar berlalu. Bukan sebelum atau saat malam itu terjadi.

Kepastian kapan datangnya lailatul qadar, masih menjadi misteri meskipun malam itu terlihat ciri sesuai hadis. Bahkan, Allah SWT menyembunyikannya dan menjadi rahasia-Nya.

Meski begitu, ada beberapa ulama yang mencoba membuat patokan tentang malam lailatul qadar. Pendapat ini tidak hanya satu, namun juga banyak. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat sedikitnya 45 pendapat mengenai waktu turunnya Lailatul Qadar.

Dari semua pendapat itu, dia menilai yang paling kuat adalah pendapat kalau malam lailatul qadar terjadi di sepuluh hari terakhir Ramadan. Tepatnya tiap malam ganjil.

Imam Syafi’i berpendapat malam ke-21 dan ke-23 Ramadan memiliki peluang besar menjadi Lailatul Qadar. Sementara mayoritas ulama, termasuk Syekh Nidzamuddin an-Naisaburi, lebih condong pada malam ke-27 Ramadan. (*)