CILACAP – Perjalanan Heri Sutrisno saat berada di Sitinjau Lauik sangat berat karena harus dorong sepeda sepanjang 12 KM. Hal ini dia lalukan karena jalan menanjak ekstrem. Sementara sepeda hanya single speed yang membuatnya kian tidak berdaya.
Heri Sutrisno (32), anak Cilacap ini membuktikan mampu gowes sampai Sabang menggunakan sepeda lowride. Bahkan dengan sepede single speed. Dia mencapai kota paling ujung di barat Nusantara itu pada 4 Agustus 2022, tepatnya di tugu Nol Kilometer.
Dia memilih melalui Sitinjau Lauik karena salah satu ikon jalan darat di Sumatera. Khususnya di jalur pesisir selatan Sumatera. Tempat ini kian menjadi perhatian setelah banyak muncul di media sosial karena ada kelokan tajam dan berada jalan menanjak.
Di titik ini dia harus mendorong sepeda di jalan menanjak sejauh 12 KM. Dia menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam dan terpaksa beristirahat di titik ikonik itu.
“Dari bawah saya harus dorong sepeda. Tidak gowes sama sekali. Dorong aja sampai kaya mau balik karena nanjak,” kata Heri melalui sambungan telepon, Kamis (15/9/2022).
Heri lalu memutuskan berhenti untuk mengambil nafas. Apalagi ada tawaran dari sejumlah pegiat medsos yang selalu berada di Sitinjau Lauik untuk ngopi. Heri kemudian terlibat obrolan dan hasilnya tayang di sejumlah kanal youtube, instagram dan media sosial lainnya.
“Sempat direkam dan tayang di youtube. Video ini juga nyebar di instagram,” katanya.
Selain di Sitinjau Lauik, medan berat juga dia alami di Aceh. Tepatnya di antara Kota Fajar dan Aceh Singkil. Dia melalui daerah penuh tanjakan hingga menguras stamina.
Demikian juga di perbatasan Jambi dan Riau. Siksakan ini kian parah dengan cauca panas terik saat Heri memasuki Riau.
“Panas dan tanjakan tinggi. Rasanya berat sekali,” kata dia.






