News  

Potensi Jamu Belum Tergarap Maksimal

Kepala Loka POM Banyumas, Suliyanto membubuhkan tanda tangan dukung pengembangan jamu herbal. Potensi jamu herbal sangat besar hingga mencapai trilyunan. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Potensi jamu herbal, secara nasional belum tergarap maksimal. Ini dengan melihat jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 275 juta lebih. Selain itu juga adanya bonus demografi yakni dengan banyaknya kelompok usia produktif.

Dalam bonus demografi, sebuah negara memiliki penduduk usia produktif dengan rentang umur antara 15 hingga 64 tahun. Mereka bisa menjadi kelompok yang memiliki kemampuan berusaha, bekerja dan menghasilkan pendapatan.

Dan bagi pengusaha, mereka bisa menjadi target pasar yang sangat potensial. Termasuk bagi para pelaku jamu herbal yang mayoritas berada di Kabupaten Cilacap, Banyumas dan Purbalingga.

Ketua Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI), Mukit Hendrayatno mengatakan, potensi jamu ini sangat besar dan cukup menggiurkan.

“Secara market, potensi jamu mungkin mencapai trilyunan,” katanya.

Menurutnya, usai produktif sekarang ini sangat lekat dan mayoritas sudah melek IT. Ini juga menjadi celah dan peluang usaha digital marketer. Termasuk bagi pelaku usaha jamu yang sekarang ini banyak mengandalkan digital marketing.

Atau juga dengan tetap mempertahankan distribusi secara konvensional. Cara ini tetap bisa digarap industri jamu dengan beragam pertimbangan.

“Produk bisa kita jual lewat digital marketing ataupun distributor konvensional,” katanya.

Karena itu dia yakin, potensi jamu herbal masih sangat terbuka luas bagi para pengusaha. Dan jika ini menjadi sasaran utama, maka jamu bisa menjadi pendongkrak ekonomi agar lebih bergeliat. Terutama di daerah atau sentra produksi jamu.

“Jika Banyumas Raya bisa menjadikan jamu ini sebagai produk unggulan, saya yakin bisa memberikan kontribusi unggulan ke ekonomi daerah,” tegasnya.

Kepala Loka POM Banyumas, Suliyanto mengatakan, BPOM menggandeng stake holder pentahelix untuk mengembangkan jamu herbal di wilayah Banyumas Raya. Mereka terdiri dari pemerintah, pengusaha, akademisi, masyarakat dan media massa. Bentuk nyata adalah menggelar Focus Group on Discussion (FGD) yang akan memunculkan sinergi antar semua stake holder.

“Kita buat kesimpulan, langkah-langkah ke depan agar jamu-jamu herbal di wilayah kita bisa berkembang baik. Tentunya jamu-jamu yang baik,” katanya. (*)