CILACAP – BPBD Kabupaten Cilacap memastikan, banjir yang terjadi pada Oktober 2022 termasuk menjadi yang terparah dan sangat luar biasa. Ini berdasarkan data desa terdampak yang mencapai 45 dan tersebar di 15 kecamatan.
Hasil kaji cepat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap Minggu (9/10/2022) dini hari mencatat, ada 3.874 KK dan 15.496 jiwa di 15 kecamatan terdampak bencana. Sementara pengungsi mencapai 72 KK atau 2860 jiwa. Jumlah ini lebih banyak dari pada kejadian sebelumnya di bulan Maret. Hingga banjir pada Oktober itu mennjadi yang terparah sepanjang 2022.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Wijonardi mengakui, banjir yang terjadi sejak 7 Oktober 2022 terparah selama 1 tahun ini dan lebih besar dari pada kejadian sebelumnya. Yakni banjir pada Maret 2022 yang mengakibatkan 3 kecamatan terendam dan 108 keluarga mengungsi.
“Banjir kali ini luar biasa, dilihat dari luasannya. Kalau ketinggian air tidak sedahsyat di (Kecamatan) Nusawungu. Yang tergenang hanya 8 desa,” kata dia.
Dia menambahkan, banjir ini lebih parah lagi karena ada kejadian bencana lain. Yakni angin kencang dan tanah longsor. Ini yang membuat petugas BPBD dan dinas terkait harus bekerja ekstra bersama warga dan relawan.
“Juga ada angin kencang dan tanah longsor,” katanya.
Dia menambahkan, penyebab banjir terparah sepanjang 2022 ini sangat komplek. Mulai dari intensitas hujan yang sangat tinggi dan terjadi dalam 3 hari berturut-turut. Selain itu juga masalah saluran yang tersumbat dan juga hutan gundul. Akumulasi penyebab ini menjadikan banjir sangat luar biasa dan membawa akibat terparah.
“Masalahnya sangat komplek,” katanya.
Sekda Cilacap, Awaludin Muuri berharap agar ada penangganan kongkrit untuk mengatasi penyebab banjir. Salah satunya adalah memperbaiki saluran air yang tersumbat. Karena ini menjadi salah satu faktor penyebab banjir.
“Saluran-saluran yang ada juga harus kita normalisasi,” tegasnya. (*)






