CILACAP – Pemerintah Kabupaten Cilacap siapkan beras fortifikasi anak dengan potensi stunting. Beras tersebut hasil penelitian UGM dan memiliki nilai kandungan gizi yang lebih baik. Harapannya, beras ini bisa mengurangi atau mengatasi anak yang ada potensi stunting.
Pj Bupati Cilacap, Yunita Dyah Suminar menjelaskan, pemerintah sudah siapkan beras fortifikasi untuk anak potensi stunting.
“Ini beras fortifikasi hasil penelitian (Universitas) Gadjah Mada,” ujar Yunita.
Beras ini mulai dia salurkan untuk balita potensi stunting di Kuta Bima Kecamatan Cimanggu. Di sana ada 20 anak yang mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan.
Dan beras fortifikasi ini, katanya memiliki nilai gizi yang lebih baik dari pada beras lainnya. Hingga punya kemampuan untuk mencegah kondisi anak agar tidak bertambah buruk atau menjadi stunting.
Karena pada dasarnya, stunting itu kekurangan gizi yang menimbulkan gangguan perkembangan otak dan kognitif. Hal ini perlu ada pencegahan saat anak masih dalam di posisi “potensi stunting”.
“Agar penangganan stunting bisa lebih cepat. Untuk akselerasi,” katanya.
Dia mengatakan, hasil penimbangan serentak pada awal Januari 2023 untuk pemetaan kasus kurang gizi dan stunting. Jika stunting, maka akan sulit tertangani. Beda dengan gizi buruk atau anak dengan potensi stunting.
Yunita menargetkan setidaknya ada penurunan prevalensi stunting pada 2024. Dan untuk mencapai target 14 %, butuh kerja keras semua pihak. Karena saat ini prevalensi stunting di Kabupaten Cilacap masih berada pada angka 17,19%.
“Ini untuk akselerasi agar mereka cepat pulih. Bukan stunting ya, tapi berpotensi,” katanya.
“Kalau stunting itu sudah susah diatasi,” katanya.
Pasca penimbangan serentak, data yang masuk segera diverifikasi untuk memilah anak dengan kondisi gizi buruk atau stunting. Dengan basis data ini, pemerintah bisa menentukan langkah untuk mengatasi masalah tersebut. Yakni mengatasi anak dengan gizi buruk atau mereka yang masuk kategori potensi stunting atau stunting. (*)






