CILACAP – Aksi para siswa yang menyerang SMK Komputama Jeruklegi, sudah sangat melampaui batas karena merusak masjid. Hingga sangat mungkin para penyerang ini sudah tidak berpegang pada nilai-nilai religi keagamaan.
Ratusan siswa itu datang dengan mengendarai sepeda motor, Senin (16/1/2023) pagi sekitar pukul 10.15 WIB. Mereka kemudian merangsek masuk dengan cara menjebol gerbang kedua di dekat Masjid SMK. Akibatnya, bangunan dan sejumlah sepeda motor di sekolah tersebut rusak.
Setelah berhasil masuk, massa nampak beringas dan melempari gedung di kompleks sekolah. Mereka juga merusak sepeda motor yang terpakir dekat masjid. Masjid juga rusak akibat aksi para siswa tersebut.
Ketua Yayasan Nur Jalin, Fathul Aminudin Aziz mengatakan, aksi siswa yang sampai rusak masjid ini sudah melampaui batas-batas normal.
“Jelas-jelas ada tulisan masjid. Kaca sampai dipecah. Ini sudah melampaui batas toleransi,” katanya, Selasa (17/1/2023).
Dia mengatakan, dalam sejumlah perang besar tempat ibadah justru mendapatkan perlindungan dari kaum muslimin. Ini sebagai toleransi terhadap keberagaman. Namun justru para siswa ini merusak masjid di SMK Komputama Jeruklegi.
Di sana juga ada tulisan besar yang menandakan sebagai tempat ibadah. Beda halnya jika tidak ada papan berisi tulisan masjid di depan bangunan tersebut.
Karena itulah dia sangat menyayangkan aksi penyerangan siswa ke SMK Komputama Jeruklegi. Termasuk aksi yang sampai merusak masjid. Masjid ini juga kerap menjadi lokasi ibadah siswa dan warga sekitar.
“Jelas kami sangat meyayangkan karena aksi siswa ini sudah rusak masjid. Ini ngeri sekali,” katanya.
Menurutnya, langkah sekolah sudah jelas yakni menyerahkan hal ini ke aparat hukum. Hingga siswa dan masyarakat sekitar tidak perlu melakukan aksi apapun.
“Serahkan saja ke polisi. Ini sudah masuk ranah hukum. Kita tidak perlu bertindak lebih jauh lagi,” tegasnya. (*)






