Warganet mulai membicarakan Film Bidaah secara luas di media sosial. Film asal Malaysia ini menampilkan bagaimana seorang tokoh memanipulasi orang lain dengan alasan agama, termasuk lewat praktik meminum air bekas guru. Penulis naskah, Erma Fatima, menghadirkan tokoh Walid sebagai pemuka agama karismatik. Dalam film itu, Walid menggunakan retorika keagamaan dan ritual seperti meminum air bekas guru untuk mempengaruhi jemaah demi kepentingan pribadinya.
Meskipun banyak penonton mengapresiasi film ini, sebagian tetap menyampaikan kritik terhadap beberapa tayangan, terutama terkait praktik-praktik seperti meminum air bekas guru, yang dianggap menyesatkan dalam konteks film tersebut. Salah satu adegan di episode 2 menit ke-27:39 menampilkan seorang murid yang ingin meminum sisa air dari gelas Walid. Namun Baiduri menolak dengan berkata, “Aku tidak butuh minum sisa orang untuk mendapatkan berkah.” Adegan ini menggambarkan penolakan terhadap praktik meminum air bekas guru dalam alur cerita yang memuat ajaran menyimpang.
Film tersebut mengangkat isu kontroversial terkait tabarruk, yaitu mencari keberkahan dari air bekas. Dalam kehidupan nyata, praktik ini memang masih berlangsung di sejumlah pesantren dengan latar keyakinan tradisi keislaman. Santri-santri di pesantren sering berlomba meminum air bekas karena mereka meyakini adanya keberkahan dari sisa minum gurunya. Mereka menjalankan praktik ini dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk cinta kepada sang guru.
Mendukung Praktik Serupa
Riwayat sahabat Nabi Muhammad SAW turut mendukung praktik serupa. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi pernah menggunakan gelas yang sama hingga sahabat ikut meminumnya. Tradisi ini memperkuat keyakinan terhadap berkah dari air bekas guru. Ketika Nabi meminta air, Sahal membawa mangkuk untuknya. Setelah Nabi meminum air dari mangkuk itu, Umar bin Abdul Aziz meminta mangkuk tersebut demi mendapatkan keberkahan. Para sahabat meneladani Nabi dengan mengambil berkah dari air bekas guru.
Imam Nawawi dalam syarahnya menegaskan bahwa sahabat mencari keberkahan dari benda yang disentuh Rasulullah. Mereka menghormati air bekas sebagai bagian dari peninggalan yang penuh nilai spiritual. Ulama dari berbagai mazhab menyepakati kebolehan tabarruk kepada orang-orang saleh. Mereka menganggap air bekas guru sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai bentuk pengkultusan.
Suatu ketika, Rasulullah berwudhu di hadapan Jabir bin Abdillah yang sedang sakit, lalu beliau memercikkan air wudhunya ke tubuh Jabir hingga ia sadar. Peristiwa itu memperlihatkan manfaat dari air bekas, yakni Nabi Muhammad. Imam Nawawi menjelaskan bahwa umat Islam dapat mengambil keberkahan dari makanan, minuman, dan air bekas guru yang saleh. Kebersamaan dengan mereka membawa keutamaan secara spiritual.
Memperkuat Pandangan
Murid Imam Nawawi juga memperkuat pandangan ini. Ia menjelaskan bahwa mengunjungi orang-orang saleh dan mengambil berkah dari air bekas guru, pakaian, atau peninggalannya termasuk bentuk keteladanan yang dianjurkan. Secara teori, para ulama membolehkan santri meminum air bekas guru demi mencari berkah dari orang-orang yang saleh. Para santri melakukannya secara sadar dan sukarela, bukan karena paksaan.
Meski demikian, tak semua pesantren menerapkan tradisi ini. Sebagian pesantren memilih bentuk penghormatan lain, seperti mencium tangan atau membersihkan tempat belajar guru, alih-alih meminum air bekas. Santri tetap bisa mencari keberkahan dari guru dengan cara lain yang lebih sehat. Jika sang guru memiliki penyakit menular, sebaiknya santri tidak memaksakan diri meminum air bekas.
Santri juga bisa menghormati gurunya dengan mendengarkan pelajaran secara fokus, tidak tertidur, dan mengamalkan ilmu. Dengan begitu, mereka tetap bisa mendapatkan keberkahan tanpa harus meminum air bekas. Film Bidaah menampilkan sisi gelap praktik keagamaan seperti meminum air bekas guru yang dijadikan alat manipulasi. Namun kenyataan di pesantren tidaklah seseram yang digambarkan.
Meski ada segelintir oknum menyalahgunakan kedudukannya, kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa semua praktik meminum air bekas merupakan bentuk penyimpangan. Tokoh-tokoh bangsa yang lahir dari pesantren tetap menjaga tradisi ini sebagai bentuk kecintaan terhadap guru-guru yang saleh. Mereka yakin air bekas guru membawa nilai-nilai spiritual.
Hubungan antara santri dan kiai tidak sebatas akademik, tapi juga emosional dan batiniah. Melalui air bekas, relasi itu semakin kuat dan penuh makna. Hubungan ini bukanlah pengkultusan, melainkan penghormatan. Seorang kiai adalah pendidik yang membentuk karakter santri dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi seperti air bekas guru menjadi bagian dari pendidikan akhlak yang khas. (*)






